Beranda > Ceritaku > Mengukir Langkah di Atas Sajadah Alam

Mengukir Langkah di Atas Sajadah Alam

Perjalanan panjang nan melelahkan dari halaman sasana budaya Universitas Negeri Malang (UM) menuju villa Hidayatullah berakhir cukup indah saat 2 angkot LG yang di carter FLP ranting UM memasuki gerbang sederhana bertuliskan hidayatullah dalam tulisan arab. Sedikit hambatan saat ditilang polisi DLAJJ terasa lebur oleh indahnya panorama villa yang terletak di perbukitan dengan background hutan pinus yang masih alami.

Bangunan yang tertata rapi dengan konsep sederhana menambah kesan yang mendamaikan hati. Beberapa bunga beraneka warna disusun sedemikian indahnya, pohon-pohon kecil yang menghiasi setiap halaman asrama semakin melengkapi kesan alamiahnya. Masjid yang tidak begitu besar namun memiliki halaman yang sedikit lebar tampak berdiri megah di tengah-tengah areal wisata rohani yang terletak di pinggiran Kota Batu ini. Di sebelah timur masjid ada sebuah bangunan yang lebih mirip rumah dengan ornamen batu-batu yang ditata rapi sebagai penghias dinding membuat orang yang melihatnya ingin segera masuk ke dalam. Namun, ku tak bisa kesana karena itu adalah asrama akhwat. Sedikit di sebelah barat masjid ada sebuah pendopo dengan meja-meja kecil yang sudah tertata rapi dikelilingi hamparan rumput menghijau dengan diselilingi beberapa warna-warni bunga yang merekah.

Aku langsung menuju asrama ikhwan yang berada di sebelah barat dari pendopo. Asrama yang begitu besar ini terbagi menjadi beberapa bagian. Bagian depan adalah Aula yang bergandengan dengan Asrama Timur dan di belakang adalah Asrama Barat. Aku dan 6 teman-teman ikhwan lainnya berada di Asrama Barat Barat (ABB) -masih ada Asraa Barat Depan dan Asrama Barat Timur- . Menurutku inilah bangunan yang sangat strategis. Sepanjang sisi selatan bangunan yang bercat putih ini dibatasi kaca yang cukup luas, sehingga ketika kulepas pandangan bebas ke arah luar tampak siluet bukit panderman dengan dengan hiasan kepadatan villa-villa di Kota Batu. Saat malam kemerlip lampu bak kunang-kunang di awang-awang.

Dua hari satu malam kuhabiskan bersama rekan-rekan FLP ranting UM dalam acara yang bertajuk Kupas Tuntas Novel (KTN). Berbagai rangkaian kegiatan dan materi kepenulisan kudapatkan selama acara tersebut berlangsung. Mulai dari teknik-teknik dasar kepenulisan yang di sampaikan Pak Karkono -pembina FLP ranting UM- , praktek membuat sinopsis novel, muhasabah bersama akh Maliki, kultum dari pembina villa hidayatullah yang sangat ekspresif, outbound di areal perbukitan pinus, praktek mendiskripsikan suasana, sharing tentang cara menerbitkan novel dengan mbak Sinta Yudisia yang merupakan peraih penghargaan fiksi terbaik dengan karyanya The Road of The Empire (TRTE). Dari semua pengalaman-pengalaman baru yang sangat berkesan dan bermanfaat itu ada satu hal yang sebenarnya lebih berharga. Yaitu bertambahnya jalinan silaturahmi dengan kawan-kawan yang memiliki pena-pena emas seperti Mas Dar peraih penghargaan cerpen terbaik, Cipte sosok yang mudah bergaul dengan kata-kata indahnya, Mas Huda sang Ketua FLP ranting UM yang sedikit tampak pendiam -sedikit lo ya-, Akh Bayu yang tak pernah lepas dengan blangkon -topi khas jawa- keramatnya, Mas Luvi yang yang suka bercanda dan tentunya dengan Pak Karkono sang pembina FLP ranting UM dengan seabrek ilmu dan pengalamannya. Sebenarnya masih banyak para mujahidah-mujahidah pena lainnya, mereka tergabung di asrama sebelah timur masjid. Walaupun tidak mengenal lebih jauh dengan mereka semua, namun karya-karya nya sungguh luar biasa.

Aku merasa bukan apa-apa. Aku merasa bagai bayi yang baru saja terlahir, bagai kupu yang baru saja ber-metamorfosis. Aku dikelilingi orang-orang yang luar biasa. Dikelilingi orang-orang yang telah mengepakkan sayapnya hingga melalang buana. Orang-orang yang telah mengayuhkan dayungnya hingga ke ujung samudra.

Lantas… apakah akau harus berhenti hanya sebagai bayi. Atau kupu-kupu yang tak mampu terbang melayang. Pantang bagiku ketika perahu yang kudayung telah berada di tengah samudra lalu harus kembali ke daratan. Ombak yang menerjang, batu karang yang menghadang harus tetap dihadapi. Bukankah itu perjuangan.

Semoga sekelumit kisah perjalan sederhana ini mampu menjadi peletup awal bagi kita semua. Amin…

Kategori:Ceritaku
  1. wahyu am
    16 Mei 2009 pukul 11:51 pm

    Pertama….
    Nice story, salam.

  2. 17 Mei 2009 pukul 1:56 pm

    Bayi dan kupu2 adalah bentukan awal dari sebuah keindahan….
    Tumbuh lalu terbanglah, tuk raih keindahan yang sejati itu ^_^

    * asyik banget kayake tuh event.. bikin mupeng aja…..😀

    deje : insya allah, bayi itu akan berusaha merangkak, berdiri, berjalan tertatih dan pada saatnya nanti berlari… syukron ukh, jazakillah…

    *asyik juga bikin orang mupeng, hihihihi…

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s