Beranda > Ceritaku > bidadari kecil itu kupanggil ‘ara tembem’

bidadari kecil itu kupanggil ‘ara tembem’

Pagi yang cerah serasa makin indah saat sebaris cahaya matahari menimpa wajahnya yang damai. Matanya yang terpejam sedikit bergerak-gerak merasakan hangatnya mentari pagi. Kesan menggemaskan bertambah saat wajahnya merona dengan untain bibir tipis dan pipi yang tembem macam donut.

Yups… genap berusia 8 hari saat minggu (10/5) yang lalu, aku menggendong satu dari sekian banyak bukti kebesaran Allah melalui ciptaanNya dalam rupa bidadari mungil yang lahir dari sebuah proses yang Maha Sempurna. Bayi mungil yang lahir tepat pukul 1 siang tanggal 2 Mei 2009 itu cukup membuat keluarga besarku bahagia. Sebuah ‘title’ baru bagi ibuku yaitu sebagai eyang uti, panggilan eyang kung untuk ayah ku, status umi untuk mbakku dan tentunya sebutan om buat ku seakan melengkapi kebahagian ini.

Kelaharin keponakan pertama yang bertepatan dengan hari pendidikan nasional ini menyebabkan sempat muncul beberapa ide pemberian nama, diantaranya yang paling konyol yaitu ‘ki hajar dewantari’… ups… kasihan banget bidadari kecil ini… hehehe

Selama seminggu pasca kelahiran bidadari kecil itu, sang umi (mbak q), sang abi, eyang kung dan eyang utinya pusing memikirkan nama yang tepat untuknya. Aneh! Padahal sudah banyak nama yang dihasilkan oleh eyang kung nya (ayah) untuk putra-putri teman, saudara bahkan orang lain yang baru kenal. Tapi mengapa untuk cucu pertama ini sulit… hehehe…

Akhirnya sang umi dan abi tercintanya lah yang memberikan nama indah kepada bidadari kecil tersebut. Itu pun karena eyang kung nya ngasih batas waktu sehari. Jika belum dapat nama juga, maka akan dikasih nama siswi handayani. Jelas aja kedua kakak tersayangku gak mau. Lathifah Azzahrah menjadi pilihan untuk nama bidadari kecil tersebut.

Bidadari kecil itu kini tertidur pulas di gendonganku, dengan sangat hati-hati dan penuh sayang kubelai pipinya yang bak donut itu. Dihalaman rumah sederhana dengan bermandikan sinar mentari pagi aku terus menghiburnya. Saat kupandang lekat-lekat wajahnya. muncul kata ‘ara’ dari bibirku. Yups… ‘ara’, sejak saat itu, bidadari kecil itu kupanggil ‘ara tembem’.

nb : buatadek ara tembem, ini adalah panggilan sayang om ke adek

Kategori:Ceritaku
  1. 15 Mei 2009 pukul 2:10 am

    selamat ya om…sekarang udh bnr2 jadi om nie
    selamat jg buat kakaknya om…
    wah….pasti lucu banget klu pipinya tembem
    kayak q….8narsis mode on

    deje : makasaih ya tih… akhirnya kamu punya adek baru… hehehe…

  2. khair
    13 Maret 2010 pukul 12:01 pm

    tembem,..😀
    Subhanalloh nama yg indah,. lathifah azzahrah,. semoga barakah,. amin

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: