Beranda > Ceritaku > Saat ku menjadi seorang Ayah

Saat ku menjadi seorang Ayah

Setelah seharian lelah bergelut dengan waktu dan terik mentari yang menyengat, tubuhku terasa tak mampu lagi tuk beraktivitas. Kubuka pintu kamar dan tanpa berfikir panjang langsung kulemparkan tubuh ini di atas kasur empuk yang telah menantiku seharian. Dan Zzzzz….

Baru beberapa menit saja kumanjakan tubuh ini tiba-tiba sepasang tangan mungil menarik-narik kemeja kerja yang masih aku kenakan. Teriakan keras serasa memecahkan gendang telinga ini ketika tubuhnya lompat ke atas punggung dan menempelkan bibir imut itu di telinga kiriku.

Sambil kutahan emosi yang hampir meledak, kubuka mata ini dan kutatap dua bola matanya yang indah sambil kukatakan dengan nada agak keras, “Adek, ayah masih capek! Belajar sama ibu saja ya”. Kulihat wajahnya yang semakin berharap dan memelas sambil berteriak, “pingin belajar ama ayah aja”. Mendengar teriakan itu, emosi ku mulai meledak. Aku pun mencoba bangun dengan menahan rasa pening kepala dan mulai membentak bocah kecil yang tak berdosa itu. Dan anak itu pun menghilang begitu saja.

Akhirnya tubuh ini dapat kurebahkan kembali. Mata ku pun terpejam. Tapi, pikiran ini tak dapat istirahat ketika membayangkan wajah anak kesayanganku yang tiba-tiba menjadi kecewa saat aku bentak tadi. Tubuhku mulai bergerak ke kanan dan ke kiri, mata mulai tak mampu kupejamkan dengan tenang dan akhirnya aku pun bangun dari tidurku dengan perasaan berdosa. Aku bangkit dan mencarinya.

Saat kucoba membuka perlahan pintu kamarnya, kulihat ia telah terlelap dengan mata sembab. Hatiku makin teriris saat kutemukan selembar kertas di meja belajarnya.

Kenapa ayah marah ke adek ?
Kenapa ayah gak mau menemani adek ?
Kenapa ayah gak mau belajar sama adek ?

Adek pingin ayah yang dongeng sebelum tidur, bukan ibu
Adek pingin ayah yang ngajarin adek baca do’a, bukan  bu guru
Adek pingin ayah tersenyum bukan marah…

Aku pandangi wajahnya yang masih bersih, wajah yang butuh kasih sayang, wajah yang butuh perhatian dan yang paling penting wajah yang menginginkan sosok ayah yang dapat menjadi panutan. Ku hampiri tubuhnya, ku kecup keningnya, ku peluk erat tubuhnya, air mata ku pun tumpah sampai ku terlelap di sampingnya.

Kriiiiiiiiiiiing…………………………….

Aku terbangun saat alarm berdering kencang. Kulihat kanan kiriku tak kutemui siapapun. Ku coba mengumpulkan tenaga dan berfikir tenang. Dan aku pun baru menyadari, bahwa ternyata ini semua hanya mimpi. Aku telah bermimpi. Sejenak kumulai berfikir, mungkinkah yang aku mimpikan itu adalah diriku beberapa tahun kedepan. Tidak!!! langsung ku tolak begitu saja. Tapi mungkin juga, pikirku kembali. Tidak!! ini kan hanya mimpi.

Aku mulai tenang dan dapat berfikir lebih jernih, bisa saja ini adalah pengingat bagi calon ayah seperti ku. Agar memberikan segalanya untuk keluarga, terutama anak-anak tercinta sebagai generasi penerus. Okey, agar tak selamanya mimpi hanyalah mimpi, akupun berjanji pada diriku sendiri dan calon anak ku kelak.

Wahai calon anakku…
Aku kan persipkan semua untukmu
Agar kelak dapat kubimbing dirimu
Agar kelak dapat kuajarkan, apa yang Rosul ajarkan kepada Fatimah
Agar kelak dapat kuberikan senyuman terindah hanya untukmu
Dan yang lebih penting…
Kan ku persembahkan seorang ibu yang sangat menyayangimu setulus hati🙂

Aku kan berusaha menjadi orang yang terhebat bagimu
Ayah yang akan menopang hidupmu
Ayah yang akan membakar semangatmu
Ayah yang akan meredam emosimu
Ayah yang selalu menjadi selimut saat lelahmu
Ayah yang dapat menjadi panutanmu

Ayah yang hebat…

Kategori:Ceritaku
  1. 7 April 2009 pukul 5:01 am

    hem…. uda pengen jadi ayah tuh tandanya, maka nya sampe kebwa mimpi😛
    makanya pak kalo ntr jadi ayah, jangan sampe jahat gt
    hehehehheehhh
    wes cpt merit aja pak ben mimpi itu menjadi nyata🙂
    ditunggu undangannya🙂 aku seng nyewakan mbl heheheh

  2. 7 April 2009 pukul 6:32 am

    Baca judulnya, Kakak sempat terkejut, Dik…
    Ternyata:
    Membaca isinya justru lebih terkejut.
    Karena hal yang kau mimpikan itu pernah menjadi nyata dalam kehidupan Kakak.




    Semoga pada saatnya nanti: Kau menjadi ayah terbaik, Dik…

    deje : amiin.. terima kasih kak

  3. 7 April 2009 pukul 8:26 am

    mau jadi ayah no.1 di dunia ya om?

    deje : insya allah… amiin…

  4. 12 April 2009 pukul 1:08 pm

    agar tak selamanya mimpi hanyalah mimpi… maka kuharus berlari… dan terus berlari menggapainya… tak kan lelah…. dan tak kan berhenti….! SEMANGKA!😉

    deje : lari ku kan semakin kencang… lelah ku kan makin menghilang… saat ada yang bersama menemani…🙂

  5. dila
    22 April 2009 pukul 9:42 am

    suatu anugrah memiliki keluarga yang bahagia…
    jika saatnya datang berjanji untuk menjaganya dan mewujudkan impianmu…

  6. 3 Juli 2009 pukul 2:54 am

    assalamu’alaikum mas.

    amin mas.
    mga gk cma dapet anak yg sholeh sholehah..
    tpi smga mndapat istri muslimah yg sholehah

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: