Beranda > Ceritaku, Tausiyah > Hidup bak bersepeda

Hidup bak bersepeda

Emang apa sih hubungannya hidup dengan bersepeda!??

sepedaMinggu pagi (8/2) merupakan pertama kalinya kukayuh mybike –sebutan sepada onthelku– untuk jarak yang lumayan jauh setelah hibernasi begitu lama. Terakhir kalinya beradu dengan kejamnya jalanan sekitar pertengahan tahun 2002. Saat itu kita berjuang menaklukkan curamnya pesisir pantai selatan yang begitu indah. Butuh waktu sekitar 12 jam untuk mengakhiri perjalanan panjang saat itu.

Momen bercengkrama dengan jalanan bersama mybike kembali terulang lagi, namun bukan di tepi hamparan laut melainkan di keramaian jalanan kota Malang. Kayuhan pertama diawali dari SMK Telkom menyusuri kawasan Sawojajar dan selanjutnya melewati jembatan Sulfat lalu mengambil arah ke kanan melewati warung soto pak yaya sampai tembus daerah Laksda Adi Sucipto. Perjalanan dilanjutkan dengan melintasi kampus STIMATA hingga di ujung Jl. Laksda Adi Sucipto kita belok ke kiri kearah Jalan Tenaga. Sempat berhenti sejenak sebelum akhirnya kita putuskan untuk melanjutkan perjalanan melewati penjara Lowokwaru – RS Lavalete – SMP 5 – Lap. Rampal – Kawasan pedagang sepatu dan bola bekas – Pasar Kebalen – Belok ke arah Polehan dan berakhir di Sawojajar kembali.

Nah, saat kaki secara konstan mengayuh pedal mybike ternyata otak ini tidak tinggal diam. Entah mengapa terlintas sebuah pernyataan bahwa hidup ternyata seperti orang bersepeda. Rute yang beragam kondisi ibarat perjalanan hidup kita, kadang jalan begitu lurus dan halus, kadang begitu ringan ketika melewati turunan, adakalanya begitu berat saat melintasi tanjakan, bahkan begitu ekstrim ketika mencoba menerjang hutan, sungai, bukit dan rute-rute berat lainnya. Sama halnya dengan perjalan hidup yang sangat misterius, kadang hidup penuh dengan kemudahan, kadang dibelit kesulitan, tiba-tiba mendapat keberuntungkan dan tanpa disangka mendapat musibah.

Saat salah seorang teman menentukan rute yang akan kita tempuh, sempat terbesit rasa ragu dalam hati. Apakah otot-otot kaki ini masih mampu untuk perjalanan sejauh itu, setelah lama tak mengayuh pedal sepeda. Namun, setelah jengkal demi jengkal perjalanan dilewati ternyata tidak ada masalah dengan kondisi fisikku, semua berjalan dengan lancar. Hal ini karena aku berusaha mempertahankan kayuhan (cadence) pada kisaran 80-100 putaran per menit dengan cara menggunakan shifter –pengatur gear-. Artinya posisi gear harus kita gonta ganti menyesuaikan jalanan, ketika ada pada tanjakkan jangan ragu untuk menurunkan gear pada posisi teringan begitu pula sebaliknya, sehingga posisi kayuhan akan selalu stabil pada kisaran angka diatas. Tips yang pernah ku dapatkan dari seorang yang sudah berpengalaman ini ternyata manjur. Perjalanan yang panjang, rute yang menanjak terasa ringan.

Begitu pula hidup ini. Jika kita bisa menjaga cadence kestabilan pola hidup, maka jalan yang berliku dan penuh misteri ini akan mudah  kita hadapi. Saat kita mendapatkan kemudahan, keuntungan, kebahagian dan segala yang menyenangkan, kita harus mencoba untuk mengendalikan diri. Tidak perlu untuk merayakan yang berlebihan, bergembira yang keterlaluan namun cukuplah kita syukuri. Begitu pula ketika kita mendapat persoalan hidup, musibah dan segala hal yang buruk menurut pandangan kita, harusnya bukan ratapan yang berlarut atau bahkan keputusasaan yang akut, namun akan lebih tepat jika kita bersabar. Syukur dan sabar tersebut diikuti dengan ketakwaan yang berkelanjutan. Dalam bahasa lain istiqomah.

Yups… bersepeda juga butuh ke istiqomahan untuk menjaga cadence pada posisi yang stabil, bersabar untuk tidak tergesa-gesa sampai tujuan dengan mengatur shifter. Bukan malah menaikkan shifter sampai posisi terberat, sehingga maksud hati ingin memperoleh kecepatan semaksimal mungkin. Akibatnya kita mengayuh dengan keras dan cepat kecapaian. Cara demikian bukan saja menyebabkan kaki pegal-pegal, tapi juga dapat merusak otot dan persendian. Dan yang terakhir dibutuhkan kesadaran terhadapa aturan di jalan, tidak seenaknya menggunakan jalan dan mengikuti rambu-rambu yang ada. Menurut Ibnu Qayyim Al-Jauziyah bahwa “ada orang yang sabar tetapi tidak istiqomah, ada yang istiqomah namun tidak sabar, ada yang sabar dan istiqomah namun tidak bertakwa. Padahal, bertakwa itulah yang menjadikan orang beruntung”.

Selamat mengarungi perjalanan hidup ini dengan penuh kesabaran, keistiqomahan dan ketakwaan.

Kategori:Ceritaku, Tausiyah
  1. 10 Februari 2009 pukul 1:59 am

    hmmmmmmmmmmm…..*merenung mode on

    deje : merenung lalu berfikir akhirnya bersyukur…🙂

  2. Miracle
    10 Februari 2009 pukul 7:21 am

    Suwun nggih mas….. ^.^

    deje : inggih… sami-sami…

  3. 11 Februari 2009 pukul 10:35 am

    minggu depan ?? futsal ae yah….

    deje : yo opo lak bike to putsal

  4. 12 Februari 2009 pukul 10:30 am

    elossssssss pakde kako

  5. 15 Februari 2009 pukul 8:47 pm

    la pedaku ga gae shifter terus iku piye pandangan hidupe

    deje : hehehe… brarti hidupnya harus d upgrade mas… (bisa’ aja)

  6. roysemut
    16 Februari 2009 pukul 12:17 am

    .: Seperti apa Pole’an sekarang Je ? Udah hampir 7 Tahun aku nggak pulang ke Ngalam

    deje : Polehan tambah sesak aja mas, jalannya makin sempit tapi kendaraan makin banyak, so sering macet

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: