Beranda > Ceritaku, Cerpen > ’18 desember’ sebuah kisah

’18 desember’ sebuah kisah

“wes talah, bapak yakin kowe hamil. Anakmu bakal e lanang lan gowo rejeki, ojo mbok gugurne,” kata-kata ini terus terngiang di benak wanita muda itu.

Dengan tatapan setengah hampa dan kernyitan dahi, wanita itu mencoba untuk mengingat kembali kata per kata yang disampaikan dengan penuh keyakinan oleh sang bapak. Dia merenung. “Ah ndak mungkin, aku kan rutin minum pil KB,” suara itu muncul dari dalam jiwanya. Tapi sorotan mata meyakinkan sang bapak, ditambah lagi selama ini beliau selalu memiliki firasat yang sangat kuat dan terbukti benar membuat dia ragu. “Opo bener aku hamil maneh, padahal si sulung masih belum genap dua tahun dan aku wes memutuskan untuk menunda kehamilan lagi karena harus menyelesaikan kuliah,”pikirannya terus terombang ambing. Dia kembali merenung. ”Anakmu bakal e lanang lan gowo rejeki,” kalimat sang bapak inilah yang membuat wanita muda itu semakin terjebak dalam keraguan. “ah, biarlah waktu yang menjawabnya.”

***

Dengan beberapa diktat kuliah di tangan kiri, wanita itu mencoba menghabiskan sisa teh hangat yang subuh tadi ia buat dengan penuh cinta untuk sang suami. Lalu ia bergegas mengenakan sepasang sepatu yang telah ia siapkan semalam. Ia daratkan kecupan terindah di dahi si sulung yang tertidur pulas di atas dipan sederhana dengan wajah cantiknya. Langkah kecilnya semakin cepat menuju vespa butut yang sedari tadi bercengkrama dengan sang suami di halaman rumah. Tangan tangannya erat memeluk tubuh kekar sang suami saat secara perlahan namun pasti vespa yang kepulan asapnya cukup mengganggu itu mulai merayap dengan kecepatan yang dipaksakan. Selama perjalanan menuju kampus yang berjarak kurang lebih 15km dari rumah, bibirnya terus komat-kamit mencoba mengulangi hafalan mata kuliah yang akan diujikan hari ini.

Vespa butut itu terhenti tepat di depan gerbang kampus sederhana sesaat sebelum jam perkuliahan dimulai. “mas, ijinkan saya untuk kembali menuntut ilmu, mohon do’a nya agar diberi kemudahan,” ucapnya lembut sambil mencoba membersihakan wajah sang suami yang kotor karena harus bercengkrama dengan si vespa butut sebelum berangkat tadi. “Semoga Allah selalu beserta kita, jaga diri dan jaga kandungan sayang,” timpal sang suami dengan senyuman tulus dan pandangan penuh cinta. Wanita itu mencium punggung tangan sang suami dengan penug takzim, “Assalamu’alaikum”.

Beberapa bangku di ruang kelas yang berada di ujung lorong itu tampak sudah bertuan semua. Hanya menyisakan sebuah bangku tepat di hadapan meja pengwas ujian. Nampaknya pepatah “posisi menentukan prestasi” masih melekat kuat di benak para mahasiswa. Kehadiran wanita yang sudah berbadan dua itu disambut hangat oleh rekan-rekannya. Bahkan bisa dibilang berlebihan, ada yang menyuguhkan air mineral, ada yang membawakan tas, ada yang mengandengnya dan ada juga yang membersihkan bangkunya. Bak seorang raja yang disambut dengan hangat, namun sambutan itu tak lain karena mereka berharap saat ujian nanti sang raja mau membagikan jawaban kepada ‘jongos’nya. Tapi ada juga yang tulus membantu karena salut melihat wanita yang sedang hamil 9 bulan ini tampil begitu energik dan selalu bersemangat ketika melahap materi-materi perkulihan. Bahkan ketika menghadapi ujian akhir kali ini pun tak kalah semangat. Mungkin itu karena bawaan bayi.

Tepat pukul 8 pagi para pengawas ujian memasuki ruang kelas yang berisi 20 mahasiswa tersebut dengan wajah yang menakutkan bagi mereka yang mengalami syndrome. Sesaat setelah diawali dengan pembacaan do’a, pengawas mulai membacakan tata tertib ujian. Beberapa peserta ujian memperhatikan dengan seksama, namun ada juga yang masih bingung membenarkan posisi duduknya lebih tepatnya posisi terbaiknya agar terlepas dari mata pengawas. Saat soal ujian mulai dibagikan ke masing-masing peserta ujian, pengawas setengah botak itu sempat bertanya kepada wanita yang duduk dibangku tepat dihadapannya. “Anak ini pasti nunggu ibunya selesai ujian,” celetuknya. Ucapan tersebut mengingatkan pesan dokter kandungan sebulan yang lalu saat wanita itu dibawa ke rumah sakit karena air ketubannya pecah. Namun saat itu usia kandungan masih belum genap 8 bulan. Dokter tersebut mengatakan kalau kandungannya kuat, tapi tetap harus banyak istirahat untuk keselamatan keduanya. Beliau juga mengatakan kemungkinan akan lahir tanggal 15 – 17 desember. Semenjak informasi tersebut, wanita yang juga mengajar di sebuah SMP itu selalu meminta sang bayi untuk tidak lahir dulu sambil mengelus-elus perutnya yang semakin membesar. Karena pada tanggal tersebut dia harus mengikuti ujian akhir untuk menyelesaikan kuliah D2.

Ternyata harapan itu terwujud. Setidaknya sampai dengan kertas ujian di hari terakhir itu dibagikan belum ada tanda-tanda si jabang bayi ingin melihat dunia. Wanita tersebut masih saja konsentrasi mengerjakan soal-soal ujian, beberapa rekan ada yang mencoba meminta bantuan untuk menjawab soal-soal yang cukup sulit. Ujian pun dilalui dengan sukses olehnya.

Di luar sana matahari sedang berada pada puncak teriknya. Lelaki muda yang sedari tadi menanti di atas vespa butut itu tampak lelah setelah seharian bergelut dengan waktu untuk mencari sesuap nasi demi anak dan istri. Keringat bercampur debu jalanan menghiasi wajah teduhnya. Namun lelah itu segera sirna saat sang istri tercinta tampak berjalan menghampiri dengan wajah yang tak kalah sumringahnya walaupun sebenarnya juga tampak kelelahan. “Alhamdulillah semua lancar mas,” seperti biasanya wanita itu dengan tulus mencium tangan suami tercinta. “Jagoanku ini memang benar-benar mengerti keadaan orang tuanya,” lelaki tersebut mengusap perut sang istri dengan kasih sayang.

Vespa butut itu pun seakan mengerti keadaan mereka berdua yang sedang dalam kelelahan. Tidak biasanya motor tahun 70an itu langsung tune in ketika di starter. Biasanya selalu rewel dan baru mau diajak jalan ketika sang empunya sudah belepotan semua. Dua pejuang kehidupan itu menikmati perjalan pulang dengan bahagia. Pun juga sang jabang bayi yang lelah seharian memberikan kekuatan kepada ibunya.

Sakit itu mulai terasa saat keduanya tiba di rumah yang baru saja jadi hak milik mereka sebulan yang lalu. Bagi mereka memiliki rumah sendiri adalah hal yang mustahil, tapi semenjak kehamilan itu semuanya terasa dimudahkan. Termasuk ketika ada seorang tetangga yang menawarkan rumahnya dengan harga yang sangat murah dan kemudahan pembayaran. Sang bayi benar-benar membawa rejeki.

Ekspresi wanita itu tampak berubah. Sang suami mengerti apa yang dialami istrinya, ia begitu sigap dan segera membopong istri tercintanya menuju kamar tengah. Dengan tetap mencoba tenang sang suami memposisikan istrinya senyaman mungkin di atas dipan. Wanita itu tidak mengeluh sama sekali, ia tidak meronta dan tidak meringis kesakitan. Air ketuban itu membasahi kasur yang baru saja selesai di keringkan karena ompol si sulung pagi tadi. “Mas, tolong sampeyan panggilkan bu bidan ya…”

Saat lelaki itu pergi menjemput bu Slamet seorang bidan yang selama ini membantu orang babaran di desa itu, si sulung yang sedari tadi bermain sendiri mendekati ibunya. “bu, maeemmaeem.. dulang ibu, ” rengekan yang tidak biasanya itu membuat wanita itu harus sedikit sabar. Saat wanita itu berusaha beranjak si sulung kembali merengek-rengek minta gendong.”bu, gendong… gendong…”

Dengan payah yang amat sangat, wanita itu mencoba bersabar dan menjalankan kewajibannya sebagai seorang ibu. Sekuat tenaga ia rangkul dan angkat si sulung dengan tangan kanan lalu berjalan menuju dapur untuk menyiapkan sepiring nasi plus telur dadar kesukaan si sulung. “Ya Allah… koyo ngene iki tingkah e wong arep babaran,” suara keras bu Slamet mengagetkan mereka berdua. “niki lo bu slamet, mbak e nyuwun maem,” sambil mengoperkan gendongan ke sang suami. “eh..eh..eh.. ben bapak e seng ndulang, ayo mbalik nang kasur,” logat keras bu slamet memang terasa, tetapi perangainya sangat baik.

Air ketuban itu tumpah lagi saat baru saja ia rebahkan tubuhnya diatas kasur kamar tengah. Bu slamet dengan sigap menangani hal tersebut. “nangis o jeng… sambat o… ojo di empet,” bu slamet heran melihat ekspresinya yang tak tampak kesakitan. “La wong mboten sakit lo bu,” ucapnya. “Iki bayi ne mengsle jeng, kesrimpet usus,” diagnosa bu slamet membuatnya sedikit panik. Setelah berjam-jam bu slamet berusaha membantu proses persalinan, si bayi ternyata belum juga mau muncul meskipun hanya sekedar menyapa sang bidan. “Jeng benjing injing tak mriki maleh, engken lek onok opo opo, bapak e kengken nyusul kulo,” bu slamet merasa bayi belum saatnya lahir dan dia pamit meninggalkan rumah tepat jam12 malam.

Pagi buta saat alunan nada dari ayam jago bersautan, perutnya terasa berkontraksi. Ia baru merasakan sakit yang sebenarnya. Maass!! Saakiiit maass!!! Rintihan pelan tapi mengiris hati itu membuat sang suami panik. “Mas, antarkan aku ke dokter Brata saja ya…”

Wajah lelaki itu tidak setenang biasanya. Ada guratan beban yang luar biasa tampak pada setiap kerutan wajahnya. Dia bingung harus mengantar dengan apa, karena si vespa butut tiba-tiba mogok, kalaupun tidak mogok ia tidak mungkin tega harus mengantar ke rumah sakit yang berjarak sekitar 20 km dengan naik vespa butut itu. Keluar rumah itulah jawabannya. Lelaki itu harus keluar dari rumah, bukan untuk lari dari masalah tapi mencari solusi. Ternyata benar pepatah dimana ada kemauan pasti ada jalan. Tiba-tiba ada sedan seri terbaru yang berhenti tepat di samping lelaki itu.

ate nang ndi mas?” sapa seseorang dari dalam mobil itu.

“eh karyo, aku lagi butuh mobil buat ngantar istri,” lelaki itu menjawab dengan setengah tergagap karena bingung.

“sudah mau babaran yo mas, ayo tak antar saja,”karyo menawarkan.

“tapi… yo…”

wes gak usah tapi-tapian, selak mbrojol engko arek e,” karyo memastikan bahwa ia tidak keberatan.

***

Sedan warna merah yang masih baru itu langsung meluncur dengan kecepatan tinggi. Di bangku belakang wanita itu ditemani sang suami tercinta sambil terus melantunkan ayat-ayat suci. Karyo dengan konsentrasi penuh memacu mobil itu dengan kecepatan maksimal . Jarak yang biasanya ditempuh dalam waktu 40-45 menit menggunakan vespa butut ternyata bisa dipangkas hanya dalam 15 menit.

Wanita itu kini terbaring di sebuah bangsal rumah sakit umum daerah dengan paras lelah. Dokter senior yang sudah berumur itu masuk ke ruang bangsal dengan beberapa perawat dan di bantu seorang bidan muda yang cantik. Dari hasil pemeriksaan dokter Adibrata dinyatakan bahwa kondisi bayi masih sehat dan harus segera dilahirkan, karena volume air ketuban semakin menipis. Hal ini dapat menyebabkan infeksi pada bayi.

“Bayinya krasan di dalam, solusinya harus menggunakan perangsang,”ujar dokter pengalaman tersebut meminta kesedian sang pasien.

“lakukan yang terbaik saja dok, saya pasrah” ujar wanita itu yang semakin payah.

Obat itu langsung bereaksi sesaat setelah dimasukkan ke tubuhnya. Rasa sakit mulai ia rasakan. Kontraksi perut yang berirama membuat wanita harus bisa mengatur napas dengan baik agar tidak kehabisan tenaga. Setelah beberapa jam meringis menahan sakit, akhirnya tepat sesaat setelah adzan duhur si bayi laki-laki yang mungil lahir dengan selamat. Tangisan kerasnya begitu merdu bagai alunan nada kehidupan. Air mata sang ibu terhapus sebuah senyuman bahagia. Sakit yang ia rasakan sirna termakan kelegaan. Sungguh suatu fenomena yang luar biasa. 18 desember bayi itu dilahirkan melalui perjalanan yang luar biasa.

Sementara itu di mushola kecil yang berada di pusat komplek rumah sakit umum tersebut, sang ayah bersimpuh memohon kemudahan dan kelancaran proses kelahiran bayinya. Walaupun sejak awal tidak berada disamping sang istri tercinta, namun kehadiran dan kekuatan yang ia berikan melalui sujud-sujudnya dapat dirasakan oleh wanita yang terbaring di dalam ruang bersalin tersebut. Setelah mengakhiri sholat sunnah ba’da duhur firasatnya mengatakan bahwa istrinya telah melahirkan. Dengan penuh semangat, lelaki itu berlari kecil melalui lorong-lorong rumah sakit menuju kamar bersalin yang berada sekitar 100 meter dari mushola. Wajah tegangnya secara drastis menjadi rona bahagia saat menyaksikan bayi laki-laki mungil itu sudah disamping sang ibu yang tampak dengan senyum tulus walau wajah lelahnya tak dapat ditutupi.

“alhamdulillah mas, Allah menitipkan anak laki-laki ke kita,” wajahnya sumringah dengan tetesan air mata haru.

Lelaki itu tidak mampu menahan gerimis air mata dan tak henti-hentinya mengucap rasa syukur. Ia raih si mungil dan mengumandangkan adzan dengan lirih di telinganya. Tak lupa ia daratkan kecupan sayang pada kening sang istri.

“dia tampan seperti ayahnya,” pujian sang istri sambil melirik ke arah sang suami.

“tentu saja, apalagi matanya yang indah seindah mata ibunya,” timpal sang suami yang seolah tak mau kalah memuji sang istri.

Mereka menyatu dalam kebahagian dan penuh cinta kasih. Bayi kecil mungil itu kini tengah memejamkan matanya. Ia tengah terlelap setelah kenyang minum air susu surga sang ibu. Pipinya yang merah merona membuat gemas memandangnya.

“mas, besok kita pulang ya…” ajak sang istri yang sangat mengerti kondisi suaminya.

“iya.. sayang, kamu istirahat dulu saja… semua nya akan saya selesaikan,” kebahagian pada wajah lelaki itu mulai pudar dan berganti mimik bingung.

***

“seluruh biaya seratus dua puluh ribu rupiah, “ ujar wanita muda dengan jilbab putihnya sambil menyodorkan rincian biaya rumah sakit.

“berapa mbak?” lelaki itu menyakan kembali dengan nada ketidakpercayaan.

“seratus dua puluh ribu rupiah pak, ibu kan punya askes. Jadi biayanya lebih murah pak,” tenaga administrasi itu kembali menegaskan.

“Alhamdulillah” sahut sang istri yang sedang menggendong bayi kecilnya yang sedari tadi tersenyum indah seakan ikut merasakan kebahagian itu.

Setelah menyelesaikan seluruh administrasi rumah sakit, mereka berjalan bersama untuk kembali ke rumah yang sekaligus menjadi surga bagi mereka. Cuaca sangat bersahabat, gumpalan awan yang menghalangi sorotan mentari siang itu membuat hangat udara namun tidak terik. Mata sang suami mengelilingi jalanan yang saat itu begitu lenggang. Dia berusaha mencari kendaraan yang bisa disewa untuk mengantar pulang. Ditengah usahanya itu, tiba-tiba mobil sedan merah yang kemarin mengantar mereka berhenti tepat di depan istrinya.

“mau balik ya mas,” teriak karyo dari dalam mobil itu.

“eh, kowe neh to yo, iyo iki lagi golek kendaraan,” lelaki itu mendekat ke arah karyo.

ayo wes bareng aku maneh,” ujar karyo sambil membuka pintu belakang sedan keluaran terbaru itu.

waduh yo, aku gak enak ama bos kmu,” lelaki itu berusaha menolak tawaran si karyo

“ooee…Oeee…ooee,” tiba-tiba bayi mungil itu menangis kencang seakan mengerti pembicaraan mereka.

tuh anak mu ae minta masuk mobil bagus ini, ayo… masalah bosku gampang” karyo mencoba meyakinkan bahwa dia tulus mau membantu lagi.

Akhirnya mereka kembali dengan mobil bmw merah milik juragan nya karyo. Bayi mungil itu kembali tertidur pulas ketika menikmati perjalanan pulang. Kedua pasangan bahagia itu benar-benar merasakan kemudahan selama proses kelahiran anak keduanya tersebut. Puncak kebahagian benar-benar mereka rasakan dengan kehadiran anggota keluarga baru. Belum habis kebahagian itu, mereka dikejutkan lagi dengan sambutan Pak Seno yang tak lain adalah pemilik lama rumah yang kini mereka tempati. Kehadiran bapak yang sudah bercucu itu membuat mereka khawatir.

“Alhamdulillah, mbah duwe cucu maneh,” sapa Pak Seno sesaat setelah mereka turun dari kendaraan yang bernomor polisi N 1111 ZA.

“eh, ada Pak Seno to, sampun kolo wau pak ?” jawab sang suami yang disambut jabatan tangan oleh pak seno.

monggo pinarak pak,” sang istri meneruskan sapa suaminya.

wes nang kene ae, aku yo selak ono acara maneh,” ujar bapak yang tampak lebih muda dari usianya iu.

“ehm.. masalah kekurangan pembayaran rumah sudah saya pikirkan pak, tapi bukan saat ini …,”

hush, aku dudu rentenir seng nagih duit nang omah-omah kuwi. Aku ikut berbahagia atas kelahiran e bayimu, nah ijinkan aku menuangkan kebahagian itu dengan memberikan hadiah ke cucuku itu. Sisa pembayaran tidak usah dipikirkan lagi, anggap aja putramu itu yang melunasi,” potong pak Seno.

panjenengan serius pak!??” kata sang istri dengan wajah penuh tanya.

Pak Seno hanya menganggukkan kepala penuh keyakinan dan pamit meninggalkan mereka. Saat itu juga sang suami sujud syukur dan memeluk istri tercinta serta mengecup lembut putranya. Tangis syukur itu tak tertahan bersamaan dengan gerimis yang mulai membasahi bumi dengan semerbak aroma tanah basah.

***

saya teringat almarhum bapak mas, jauh sebelum saya tahu kalau ada janin di dalam rahim ini beliau sangat yakin kalau anakku nanti laki-laki dan membawa rejeki

bapak memang punya firasat yang kuat, semoga beliau merasakan kebahagian kita ini. Tapi kita tetap harus ingat bahwa hanya Allah yang memberikan rejeki kepada kita, hanya Allah yang melimpahkan nikmat pada kita dan hanya kepadaNya lah kita patut bersyukur

Malang, 19 Desember 2008
Rahmat D. Djatmiko

*cerpen ini kupersembahkan untuk siapapun yang merasa pernah dilahirkan dari rahim seorang ibu yang dengan letih dan payah membawa kita selama 9 bulan dan penuh derita serta rasa sakit yang termat ketika berjuang diantara hidup dan mati untuk sebuah kebahagian akan kehadiran bayi mungilnya. Semoga melalui cerpen ini mengingatkan kita akan perjuangan ibu tercinta serta perjuangan seorang ayah yang mati-matian mendampingi sang ibu serta berusaha mengais rejeki hanya untuk sesuap nasi. Ingatlah ibumu, ibumu, ibumu lalu ayahmu…

Kategori:Ceritaku, Cerpen
  1. 19 Desember 2008 pukul 3:23 am

    Cerita ini mengingatkanku ketika acara traktirannya mas yaniko di …(tiit…q lupa namanya, pokonya steak n shake deh). Cerita yang q dpet dr seorang om yang q mintai pendapatnya ketika q bertanya tentang pertimbangan untuk menikah muda…..Dan hari ini q dapatkan cerita lebih detailnya….:) –> happy birthday ya mas

    deje : thanks ya nduk, ternyata kmu masih ingat waktu itu, berarti pesan-pesanku selalu di inget terus dong *bangga mode on, hehehehe….

  2. nadhika
    19 Desember 2008 pukul 11:22 am

    apa se yg g buat om q???

  3. 21 Desember 2008 pukul 4:13 am

    wes..tambah sip ae! Terus berkarya mas! Jadi motivatorku juga, biar ndak pasang surut semangat ini… Tabik!

    deje : insya Allah

  4. HAN
    30 November 2009 pukul 8:43 am

    KISAHNYA BAGUZ….

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: