Beranda > Cerpen > Subuh Ini

Subuh Ini

Suara keras itu kembali terasa bagai jeruji tajam yang menusuk gendang telingaku dari kanan dan kiri. Derita karena penyakit yang harusnya kurasakan dikalahkan oleh bentakan-bentakan bapak ketika untuk sekian kalinya pulang larut malam. Puncaknya, tubuh ini serasa terkuliti saat suara ‘brak’ mengakhiri keramaian malam ini.

Saat pintu kamar terbuka perlahan, dua bola mata yang telah berkaca-kaca ini menangkap sebuah senyuman tulus dari seorang wanita yang tak pernah berhenti berharap untuk sebuah kebahagian. Tampak wajah yang teduh penuh kedamaian membuat lukaku terobati.

“Bapak marah lagi ya bu?” pertanyaan yang selalu kulontarkan ketika wanita yang sangat menyayangiku hendak merebahkan tubuhnya di sampingku.

“Kenapa bapak selalu pulang larut dan marah-marah ke ibu? Ibu salah apa?”

Ibu hanya tersenyum sembari mengambil satu-satunya selimut lama yang sudah tak layak untuk melindungi tubuh dari dinginnya malam dan dalam sekejap telah menutupi seluruh tubuhku.

“Apa karena Inta yang terkulai lemas tak berdaya ini? Apa karena Inta yang tak kunjung sembuh ini, bu?” sambil kubuka selimut yang menutup wajahku dan memohon sebuah jawaban.

Ibu mengecup keningku cukup lama, kurasakan energi positf dari tubuhnya mengalir bak obat penenang yang pernah dokter suntikan setahun yang lalu disaat aku tak mampu menahan sakitku.

“Adik harus kuat,” kata ibu lirih.

“Bapak sangat menyayangi kita, dik. Dia mencurahkan seluruh tenaga dan waktunya hanya untuk keluarga. Mungkin malam ini beliau kecapekan, ” jawaban yang setiap malam ibu lontarkan menunjukkan rasa cintanya kepada bapak.

“Sekarang adik tidur dulu ya, ibu akan bacakan sebuah kisah tentang Cinderella,” cerita yang selalu ibu bacakan disetiap pengantar tidurku.

Aku memang hanya seorang gadis kecil berusia 6 tahun. Dibalik kepolosanku, aku dapat menyimpulkan bahwa Ibu sebenarnya sedang menderita, beliau selalu menghadapi semuanya dengan diam dan senyuman.

“Ibu, sakit… sakit sekali…” rintihku tiba-tiba menghentikan dongeng Cinderella. Aku sudah tak kuat menahan nyeri pada seluruh tulangku.

Wanita itu memeluk tubuhku dengan rapat sambil membacakan Al-Fatihah . Energi yang selalu coba ia berikan kepadaku. Mungkin hanya itu yang bisa beliau lakukan semenjak bapak dipecat dari kantornya setahun yang lalu. Semua harta benda bapak dan ibu telah habis hanya untuk pengobatanku.

Aku memang merasakan energi yang luar biasa dari dekapan seorang wanita yang telah melahirkanku. Namun rasa sakit itu benar-benar tak tertahan. Ku hanya bisa memejamkan mata dan kututupi wajahku dengan selimut sambil mencoba menahan sakit itu. Aku berusaha menutupi rasa sakit yang mendera.

Malam ini terasa sunyi. Kilauan bintang dan sinar rembulan tak mampu menembus gumpalan mendung yang membawa rintik gerimis. Dalam gelapnya kamar yang sempit ini, ku lihat sebuah cahaya pada tubuh seorang wanita yang sedang ruku’ dan sujud. Tangisan lirih sangat terdengar jelas di kedua telingaku.

Ibu menangis. Ibuku yang selama ini hanya tesenyum dan diam sekarang menangis. Menangis dihadapan Sang Maha Kuasa. Aku menjadi saksi begitu mahalnya air mata ibu, beliau hanya tumpahkan dihadapan Sang Khalik. Hanya sekali kulihat air mata itu menetes selain disetiap sujudnya, yaitu setahun yang lalu ketika dr. Jaya memvonis leukemia pada Cinta anaknya.

Entah ada kekuatan darimana yang mampu menggerakkan kaki ini untuk beranjak dari kasur dan berjalan tertatih menuju cahaya itu. Aku yang selama ini hanya terbaring lemas tak berdaya ternyata mampu melangkahkan kakiku. Kudekap tubuh wanita itu dari belakang, “Ibu jangan nagis, Inta sudah sembuh bu…”

“Cinta!” derai air mata semakin mebasahi pipi wanita itu. Ibu membalikkan tubuhnya dan meraihku dalam dekapnya. Mencium keningku dengan hangatnya. Ada keajaiban yang luar biasa dalam tubuhku.

Entah perintah dari siapa, kutarik lengan wanita yang masih mengenakan mukena putih tersebut. Kubuka pintu kamar yang sudah reot. Langkah kaki ini menuntunku ke kamar bapak yang bersebelahan dengan kamarku.

“Pak, bangun pak…” bisikku lembut di telinga kanan bapak.

“Pak bangun, Inta pingin gendong bapak,” pintaku yang kedua membuat bapak tersadar dan tampak raut wajah yang keheranan melihatku berdiri didepannya.

Bapak menampar wajahnya sendiri memastikan dirinya tidak sedang bermimpi. Ia meneteskan air mata saat senyumku mengembang manja. “Inta sayang bapak, Inta minta gendong bapak.”

Allahu Akbar… Allahu Akbar…

Pekik takbir dari surau samping rumah mengakhiri sunyinya malam ini. Kokok ayam bersahutan. Mendung tebal telah berganti kerlipan bintang. Subuh ini untuk pertama kalinya kita bertiga berpelukan dalam satu tangis bahagia semenjak hilang setahun yang lalu.

“Pak, Inta mau sholat sama bapak dan ibu lagi,” suara lembutku menghentikan tangisan itu.

“Iya nak, kita sholat berjamaah lagi,” suara bapak yang lembut seakan menghapus nada keras ketika membentak ibu yang terngiang di otak semalam.

Subuh ini untuk pertama kalinya bapak kembali menjadi imam di rumah semenjak vonis itu setahun yang lalu. Subuh ini untuk pertama kalinya ibu mencium kembali tangan bapak dengan penuh takzim. Subuh ini untuk pertama kalinya bapak dan ibu kembali mencium keningku semenjak leukemia kronis menyerang tubuhku.

Kulihat binar bahagia pada kedua wajah mereka. Kutatap lekat-lekat wajah bapak dan ibu satu persatu. Air mata syukur itu masih saja membasahi ruas pipinya. Mungkin saat ini wajahku juga seindah mereka.

Tiba-tiba wajah bahagia itu lenyap pada keduanya. Kulihat raut muka ketakutan yang sangat pada mereka. Di saat darah segar mengalir dari lubang hidungku. Amis darah kurasakan begitu tajam. Kucoba sumpal dengan tangan mungilku, namun darah itu semakin mengalir membasahi mukena putihku.

“Cinta!” serentak mereka mengkhawatirkanku.

Wajahku masih saja cerah merasakan kebahagiaan subuh ini. Pori-poriku mulai memerah. Bintik-bitik itu bagai kran yang siap dibuka. Perlahan darah mulai keluar dari setiap pori-poriku. Ku rasakan sakit yang begitu hebat. Namun semua terhapus oleh senyuman yang telah kudapatkan dari kedua orang yang sangat aku cintai walaupun hanya subuh ini.

“Tolong buat Inta bahagia,” pintaku manja.

“Cinta mau apa!?” bapak memelukku dan berusaha membersihkan darah yang semakin deras.

“Inta mau bapak dan ibu bahagia seperti tadi. Inta mau bapak kembali menjadi imam bagi keluarga ini.”

Kita bertiga kembali berpelukan. Subuh ini untuk terakhir kalinya kupandangi lekat-lekat wajah mereka. Subuh ini untuk terakhir kalinya kulempar senyum terindah kepada meraka. Subuh ini untuk terakhir kalinya kurasakan pelukan hangat mereka.

Cahaya itu perlahan memutih. Kehangatanku mulai menghilang. Mataku mulai meredup. Harum surga menantiku. “Inta sayang bapak dan ibu, Inta menanti bapak dan ibu di surga”

Subuh ini kekuatan cinta menyatukan mereka dalam keabadian!

T A M A T

Rahmat D. DJatmiko
Sawojajar – 27 Nopember 2008

Kategori:Cerpen
  1. ratih
    27 November 2008 pukul 6:18 am

    Untuk sebuah awal bagus kok mas ceritanya….
    Walaupun ceritanya hanya fokus pada satu hal, tapi chemistry-nya dapet..
    Mungkin lain kali perlu mencoba membuat cerpen yang multi port ya mas…hehehhe

    deje : Terima kasih, memang sengaja aku fokus pada satu hal, soalnya klo banyak konflik kawatir jadi novel.

  2. roysemut
    28 November 2008 pukul 1:38 am

    Cerita ini membuat saya menangis haru di pagi hari… mungkin saya terlalu menjiwai bacanya ya…. atau mungkin karena saya juga punya anak perempuan mungil….

    tapi secara keseluruhan…. awalnya cukup baik, cuma satu hal yang membuat cerita ini jadi cerita deje. Bukan si cinta yang menuturkan. si-cinta keliwat pintar dibanding keliwat polos. Bahasa yang dituturkan Cinta dalam cerpen ini terlalu berkesan lebih tahu… (too smart as a young girl), hasilnya ya agak kurang greget menurut saya….

    tapi secara cerita cukup baik. tinggal gimana caranya mas deje menulis cinta sebagai cinta bukan sebagai deje….

    kemarin saya dapat ilmu dari kawan sesama penulis (dia penulis puisi, Jay AM) dia bilang : “Cerpen, Novel, Film, yang mengalir itu harus ceritanya, bukan misi/pesan penulisnya. Kalau mau menulis misi atau pesan, tulis saja opini. Itu sebabnya aku lebih suka menulis puisi, menulis semau apa yang aku rasakan”

    deje : waoo… masukan yang luar biasa… mas roy selalu memberikan masukan yang positif. Thanks mas, emang bener saya belum bisa menghadirkan cinta sebagai seorang gadis 6 tahun yang polos. Padahal di kerangka cerita sudah saya berikan karakter polos buat dia, sudut pandang first person yang saya gunakan menjebak karakter cinta.
    Ok, next cerita akan aku tingkatkan… Sekali lagi terima kasih mas roy

  3. 2 Desember 2008 pukul 2:16 am

    ayoo.. dolen2 pak😀 tgl 14 yo

  4. 2 Desember 2008 pukul 1:19 pm

    kakimu menghentak semangat
    bergerak maju tak berkesudahan
    jikalau diam perlahan
    bukanlah awal kelemahan
    melainkan pengumpulan kekuatan

    Sahabat, aku senang bisa kembali menyapamu🙂

    deje :
    sapamu membuncahkan semangat
    hadirmu memacu aliran darahku
    diammu bukanlah tak acuh
    melainkan do’a yang penuh kekuatan

    Terima kasih, telah sudi mampir menyapaku🙂

  5. Santy
    3 Desember 2008 pukul 12:26 am

    Maaf…numpang lewat dik…

    deje : wah dengan senang hati sudi mampir

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: