Beranda > Cerpen > Cinta Abi, Tulus dan Ikhlas (bagian 4)

Cinta Abi, Tulus dan Ikhlas (bagian 4)

Ketika pagi hendak mengakhiri tugasnya untuk menyejukkan pesisir pantai selatan. Bayu telah berada di sebuah ruang tamu sederhana milik keluarga Nisa. Pertemuan itu pun terjadi. Ada keraguan tampak pada wajah Nisa.

“Maksud kedatangan saya pasti sudah dijelaskan oleh Ayah dan Ibu Nisa,” kata Bayu yang memang tidak suka basa-basi.

“Saya tidak ingin ada keterpaksaan diantara kita,” Bayu yang lebih paham agama mencoba memastikan perasaan Nisa yang sebenarnya.

Nisa melirik sejenak kearah pemuda berwajah bersih itu. “Kenapa bicara begitu?”

“Tidak apa-apa. Saya hanya ingin memastikan bahwa Nisa tidak keberatan menikah dengan saya. Sebab menikah bukanlah main-main, ini adalah langkah awal kebahagian sebuah keluarga, Nisa” Bayu tampak serius.

Nisa tertunduk memainkan ujung jilbab dengan jari-jarinya.

“Jadi lebih baik ungkapkan perasaan Nisa sejujurnya, saya tidak akan tersinggung kalaupun jawaban itu adalah sebuah penolakan,” kata Bayu dengan ekspresi tenang.

Nisa membetulkan posisi duduknya. Ia menghela napas sejenak.

“Jika Nisa boleh berterus terang, sejatinya orang sebaik kamu tidaklah pantas untuk ditolak. Nisa bisa merasakan kekecewaan Ayah dan Ibu jika hal itu sampai terjadi, ” ujar Nisa yang tak kalah tenang.

Bayu mendengarkan kata perkata yang meluncur dengan lancar dari bibir Nisa dengan perasaan agak berdebar, antara harapan dan kekhawatiran yang muncul bergantian. Apalagi memperhatikan wajah Nisa yang bersungguh-sungguh dan penuh kejujuran.

“Namun jika Nisa boleh lebih berterus terang, menerima lamaran ini seperti mengkhianati sisi hati Nisa yang lain. Sisi yang telah lama Nisa siapkan untuk Abi.” entah ada kekuatan dari mana yang membuat Nisa mampu berterus terang dihadapan Bayu.

Bayu masih terus menyimak perkataan Nisa dengan wajah yang masih tampak tenang.

“Kita semua tahu, musibah itu pasti menghancurkan semangat hidup Abi. Bahkan semangat yang sudah mulai tumbuh itu, akan semakin hancur ketika tidak ada seorang pun yang mencurahkan cinta padanya,” tampak mendung menggelayut di wajah Nisa.

“Saya yakin orang sebaik kamu akan lebih memiliki kesempatan untuk hidup secara layak karena setiap orang akan memberikan jalan. Tapi tidak bagi Abi. Kondisi fisik yang seperti itu pasti menutup setiap kesempatan yang harusnya ia dapatkan. Termasuk kesempatan untuk hidup bersamaku,” suara Nisa mulai bergetar.

“Dan… kesempatan itulah yang ingin aku berikan padanya.”

“Apakah itu artinya… Nisa menolak lamaranku?” Bayu ingin lebih memastikan. Kali ini wajahnya tidak setenang sebelumnya.

Nisa melempar senyum kecil. “Saya kan tidak bilang menolak, sebab bagi saya semua ini seperti dilema. Saya tidak ingin menikah tanpa restu orang tua, dan saya tidak ingin mengecewakan Ayah dan Ibu. Seperti apa yang saya sampaikan awal tadi. Tidak ada alasan untuk menolak lamaran darimu”

“Jadi? Apa kesimpulannya?” Bayu semakin merasa penuh dengan keraguan.

Nisa kembali terdiam sambil menatap ujung jilbab yang tanpa sadar ia mainkan sejak tadi. Mendung itu, masih tampak menggelantung di balik lentik bulu matanya. Dan Bayu dapat menangkap sinyal itu.

“Nisa akan melangkah ke mana restu orang tua mengarah. Bukankah ridha Allah ada dalam ridha mereka. Selanjutnya, biarlah Allah yang menentukan takdir-Nya atas Nisa.

Binar kelegaan tampak pada keduanya. Semua sudah jelas. Bayu merasa harapan sudah ada didepan mata. Namun, tidak halnya dengan Nisa. Binar kelegaan itu secara perlahan menguap seiring dengan bergulirnya mendung yang sejak tadi tampak menggantung pada dua bola matanya. Nisa menangis!

Bayu hanya tertegun.

***

“Assalamu’alaikum, bi…” sapaan itu menghentikan mata pena yang sedang menggores lembaran kertas Abi.

“Wa’alaikumsallam Warahmatullah,” jawab Abi yang tampak kaget dengan kehadiran sahabatnya.

Walaupun Bayu sudah 1 tahun di desa itu, tapi baru dua kali ini dia menemui Abi di gubuk samudranya. Itu semua karena kesibukan Bayu mengurus pondok pesantren peninggalan ayahnya.

“Apa kabar sobat? Maaf, lama sekali aku tak main ke sini,” kata Bayu sambil melangkahkan kakinya kedalam gubuk samudra milik Abi yang lebih tampak seperti perpustakaan.

“Alhamdulillah sob, aku masih bisa mewakafkan waktu dan tenagaku untuk anak-anak pesisir pantai, kamu sendiri bagaimana?” tampak tangan Abi merapikan lembaran-lembaran yang berserakan di mejanya.

“Aku bangga kepadamu bi, kekurangan tidak pernah menjadikan alasan untuk tidak dapat berbuat,” kata Bayu tulus.

“Mungkin tanpa dukungan kalian saat itu, aku tidak mungkin seperti saat ini. O ya, bagaimana rencana pernikahan kalian?” Tanya Abi dengan tenang.

“Ya itu… maksud kedatanganku, bi…” Bayu merasa lega tidak perlu bersusah payah mencari celah untuk membuka pembicaraan ke arah sana.

“Ahad depan, ada peresmian Masjid Baru di pondok yang akan dihadiri Bapak Bupati. Aku ingin momen itu menjadi momen yang sangat special. Di depan ratusan undangan dan masyarakat sekitar akan terjadi sejarah bagi dua insan yang saling mencinta. Sebagai sahabat, aku mohon kamu hadir dan berada pada barisan terdepan.”

Abi menelan ludah. Walaupun dia sudah bisa menerima kenyataan ini, tapi entah mengapa ada sisi hati terdalam yang tidak pernah bisa menerima. Dengan cepat luka di tepi hati itu menjalar dan semakin terasa nyeri.

“Kamu tidak apa-apa kan, bi…” kata Bayu sambil memperhatikan sekilas perubahan yang ada di wajah Abi.

Dengan cepat Abi dapat membuang jauh perasaan itu. Ia tidak ingin terjangkit penyakit hati. Dalam hati ia beristighfar. “Saya tidak apa-apa. Pasti saya datang pada momen berbahagia itu.”

“Terima kasih, bi…” kata Bayu sambil beranjak dari duduknya dan mengambil sebuah buku yang sejak tadi mengganggu pikirannya.

“Kamu penggemar samudra biru juga ya?” sambil mengambil sebuah buku yang berjudul Kutunggu engkau di tepi samudra.

Abi tersenyum kecil, sambil menyodorkan tumpukan kertas yang masih terjepit binder clip di ujungnya. “Nih buku terbaru samudra biru.”

Bayu mengeryitkan dahinya. Tidak mengerti apa yang dimaksud sahabatnya itu. Lalu dengan seksama ia baca lembar demi lembar novel yang belum tuntas itu. Dia tahu betul bahwa itu adalah gaya penulisan dari samudra biru. Yang membuat dia heran, mengapa tulisan Abi yang menempel pada lembaran itu.

“Jadi… samudra biru itu…”, kata Bayu dengan wajah penuh tanya.

“Akhirnya kamu adalah orang pertama yang tahu identitas samudra biru selain Pak Zul orang penerbitan. Sengaja aku melarang Pak Zul untuk mempublish profilku. Karena aku ingin suatu saat orang pertama yang tahu siapa samudra biru adalah belahan jiwaku,” kata Abi dengan mimik wajah yang lain.

“Tapi mengapa kau beritahukan kepadaku?” Bayu mencoba bertanya.

“Aku tidak mungkin menunggu belahan jiwaku. Mungkin dia terdampar di samudra yang lain. Dan juga karena desakan Pak Zul yang memintaku untuk segera membuka diri, beliau sudah menunda dua kali untuk memberikan penghargaan atas penjualan novel-novel samudra biru, padahal menurut beliau hal itu akan berdampak pada penjualan buku-buku yang lain,” kata Abi sambil menunjukkan kontrak kerjasamanya dengan penerbitan.

Akhirnya Bayu mendapatkan jawaban yang telah ia cari. Identitas samudra biru adalah Abimayu sahabatnya semakin menguatkan dugaannya bahwa Abi juga sangat mencintai Nisa. Hal itu tertuang dengan jelas pada novel Kutunggu engkau di tepi samudera yang berulang-ulang ia baca ketika balajar di pondok dulu.

***

Masyarakat tampak memenuhi masjid yang berada di areal pondok pesantren asuhan Kyai Hasyim. Sesaat setelah rombongan Bupati Lumajang datang, acara peresmian masjid langsung dimulai dengan diandai penandatangan prasasti. Acara demi acara berikutnya mengalir tanpa halangan.

Tampak di barisan depan Abi menyimak setiap acara dengan seksama. Sesekali ia biarkan kedua matanya menjelajahi sisi bangunan masjid yang megah tersebut. Ia bisa melihat dari dekat wajah Bapak Bupati yang selama ini hanya ia ketahui fotonya. Ketika pandangannya terlempar ke arah deretan hadirin yang berada di belakang rombongan Bapak Bupati, ia melihat Pak Zul yang tidak lain adalah pimpinan perusahaan yang menerbitkan novel-novelnya.

Ada pertanyaan yang menggelantung di otak Abi, mengapa Pak Zul ikut hadir di acara ini. Ketika ia berusaha ingin tahu, sambil terus memperhatikan setiap hadirin yang hadir tiba-tiba hatinya berdegup kencang ketika kedua matanya menatap dua bola mata yang indah dari seorang gadis yang sangat anggun dengan kebaya putih dipadu dengan jilbab putih. Nisa menundukkan kepala dan Abi tampak semakin gelisah. Ia merasa berada pada tempat yang salah.

Setelah semua rangkaian acara peresmian selesai, tak lama kemudian tampak Bayu naik ke atas mimbar dan mengucapkan salam kepada seluruh hadirin.

“Sebelumnya saya sampaikan terima kasih karena bapak-bapak dan ibu-ibu hadirin masih mengikuti rangkaian acara ini sampai akhir,” Bayu tersenyum sebelum melanjutkan.

“Pada kesempatan yang berbahagia ini, ijinkan saya untuk memberikan apresiasi pada sahabat saya Abi atas pengabdiannya terhadap anak-anak kurang mampu di pesisir pantai selatan. Untuk itu saya mohon dengan sangat kepada Abi agar berkenan hadir di depan,” sambil memandang wajah Abi untuk meyakinkannya.

Abi melangkahkan kakinya dengan berat. Dia heran dengan apa yang dilakukan sahabatnya.

“Dengan hormat kami persilahkan kepada Bapak Bupati dan Pak Zulkarnaen untuk memberikan penghargaan kepada Abi atas prestasinya dalam bidang sastra. Karena Abi adalah samudra biru penulis novel best seller Kutunggu engkau di tepi samudra.”

Sontak seluruh hadirin tampak kaget dan tanpa isyarat semuanya memberikan apresiasi kepada Abi yang selama ini lebih dikenal maysarakat sebagai sosok yang hanya menghabiskan waktunya di dalam gubuk pesisir pantai. Abi pun terkejut dengan apa yang telah dilakukan oleh sahabatnya. Ia baru sadar bahwa Pak Zul diundang untuk kepentingan ini.

Sementara itu, di deretan hadirin putri, Nisa tampak gelisah. Dia tidak bisa menyembunyikan perasaan kaget dan sedih ketika mengetahui samudra biru adalah Abi. Kini, Nisa tahu perasaan yang sebenarnya dari seseorang yang sebenarnya sangat ia harapkan. Karena dalam novel Kutunggu engkau di tepi samudra sangat jelas setting ceritanya. Itulah curahan hati Abi!

“Terima kasih kepada semuanya, terutama kepada dua orang sahabatku Bayu dan Nisa. Semoga kalian menjadi orang yang paling berbahagia,” kalimat terakhir ia sampaikan dengan sangat dalam sebagai wujud cinta kepada kedua sahabatnya. Cinta yang tulus dan Ikhlas!

Kegembiraan memang tampak pada wajah Abi setelah menerima penghargaan itu, namun perlahan semuanya pudar dan berganti kesedihan. Ingin rasanya ia ditelan bumi. Abi merasa Bayu hanya menghiburnya. Ia bak anak kecil yang hendak ditinggal pergi ibunya, lalu ia menangis dan sang ibu membelikan balon agar si anak tidak menangis. Ketika tangisan itu terhenti dan si anak sibuk dengan balonnya, sang ibu tetap saja pergi meninggalkannya.

“Seperti yang telah disampaikan Abi, kebahagian ini tidak terasa lengkap jika saya dan Nisa tidak ikut berbahagia. Pada kesempatan ini saya telah mengundang Pak Edi selaku kepala KUA untuk berkenan menikahkan sahabat saya Nisa,” wajah Bayu tampak sangat berseri.

Masyarakat sekitar yang hadir pada saat itu sudah dapat menebak siapa yang akan mempersunting bunga desa putri Pak Sis ini. Karena desas-desus pernikahan Bayu dan Nisa sudah terdengar di masyarakat. Binar kebahagian tidak hanya tampak pada wajah Bayu, namun juga semua hadirin yang saat itu penuh sesak di areal pondok. Kecuali hanya dua orang yang tampak mencoba untuk merasakan bahagia tesebut, yaitu Abi dan Nisa.

“dengan Abi,” lanjut Bayu yang membuat suasana berubah menjadi hening dan haru.

Abi tertegun tak berkutik. Sementara itu Nisa tampak kaget dengan pernyataan Bayu. Sang Ibu memeluk dengan penuh kasih sayang. Dengan lembut dia bisikkan ditelinga putrinya, “Bayu telah menjelaskan semuanya kepada Ibu dan Ayah. Kami merestui nduk. Bayu juga ikhlas.” Keduanya berpelukan dengan berurai air mata haru.

“Akad nikah ini bisa dilanjutkan jika kedua mempelai telah sama-sama menerima,” kata Pak Edi untuk memastikan.

Abi masih saja terpaku dalam diam. Ia menangkap senyum tulus dari Bayu sahabatnya, anggukan serius dari Pak Sis dan linangan air mata haru dari Nisa dan Ibunya membuat Abi tak mampu mengungkapkan perasaannya. Lututnya tertekuk menyentuh lantai masjid. Dengan linangan air mata ia letatakkan dahinya untuk bersujud. Sujud syukur yang panjang sebagai sebuah jawaban.

Ia merasa menjadi mahluk yang sangat kecil. Ketika cinta yang tulus dan ikhlas hanya karena Allah ia berikan. Allah memberi lebih dari itu. Cinta Sejati!

TAMAT

Kategori:Cerpen
  1. Pengamat
    23 November 2008 pukul 1:48 pm

    lorong terdalam samudra jiwa yg tak lagi hampa..semoga..

    deje : amiin! ^_^

  2. bornland
    24 November 2008 pukul 12:53 am

    coba sekali kali sad ending ngunu,hehehe….
    just my opinion…

    deje : kmaren tuh alur cerita sebener e sad ending, trus beberapa komentator kok kayak e menghendaki happy ending, ya akhir e tak rubah.

  3. ratih
    24 November 2008 pukul 2:17 am

    hehhee
    usul q d kabulkan….asyik…asyik…
    doorprize nya mana mas?hehehe

    deje : doorprize bisa di ambil di malang, jangan lupa bawa kartu identitas.🙂

  4. 24 November 2008 pukul 7:54 am

    haaaaaaaa
    aaaaa
    aaaaaaa
    aaa
    *eswete*
    untung aku cowok yang kerja d kantor
    wkkk
    klo aku anak cewek trus baca di rumah
    bisa2 nangis ni
    jadi malu

    deje : gpp mas, nangis tuh nanda in klo jiwa kita masih peka.

  5. 27 November 2008 pukul 5:45 am

    Resensi Cerpen “Cinta Abi, Tulus dan Ikhlas”
    Karya Rahmat Dwi Djatmiko

    Rahmat Dwi Djatmiko lahir di Lumajang, 18 Desember 1985. Pendidikan SD sampai SMP ditempuh di Lumajang. Sejak Pendidikan lanjutan atas ia hijrah di Malang sampai Perguruan Tinggi. Ia telah menjadi guru IT ketika masih berstatus mahasiswa. (Sekarang sudah lulus belum ya?). Di lingkungan komunitas tertentu ia dikenal sebagai “Anak Ajaib” karena kecerdasanya. Sekarang ia merambah dunia jurnalistik, dunia yang tidak ada sangkut pautnya secara langsung dengan teknologi.

    “Cinta Abi, Tulus dan Ikhlas” merupakan karya cerpen pertama penulis. Karya pertama yang luar bisa. Unsur ekstrinsik yang melatari cerpen tersebut sedikit dipengaruhi oleh latar belakang biografi penulis. Setting Lumajang, Daerah Pesisir Selatan, merupakan percikan unsur yang kental dengan latar belakang penulis. Tema cinta dan kemanusiaan kental mewarnai cerpen ini. Motivasi tinggi untuk menuntut ilmu bahkan sampai jauh ke kota, memberikan gambaran betapa pendidikan tidak hanya monopoli orang kota.
    “Cinta tidak memandang kekurangan fisik”, alangkah indahnya hidup jika semua manusia mempunyai pandangan dan ketulusan seperti tokoh NIsa. Semangat hidup yang tidak pernah luntur dari seorang cacat fisik seperti Abi, membentangkan cakrawala pandang bagi orang lain. Kerendahan budi yang tunjukkan Bayu adalah pancaran hidup yang dapat menerangi kegelapan hati manusia.
    Cerpen “Cinta Abi, Tulus dan Ikhlas, menyajikan tema yang dibalut dengan keindahan unsur-unsur intrinsiknya. Gaya bahasa metafora dan simile memberi pencitraan yang melekat di mata khayal pembaca. Gambaran hidup masyarakat desa yang intelek dan religius memberi ajaran moral yang cocok bagi perkembangan mental psikologis remaja masa kini.

    Walaupun terdapat sedikit kesalahan penulisan bahasa, tidak menggoyahkan ketertarikan pembaca untuk menuntaskan cerpen ini sampai tamat.
    Cerpen ini cocok dibaca oleh remaja sebagai acuan dalam memandang makna cinta sejati. Selain itu cocok juga dibaca orang tua untuk belajar memahami perasaan cinta putra-putrinya.

    deje : Terima kasih atas resensinya, next tolong disampaikan letak kesalahannya. Pada karya pertama ini, deje hanya mencoba menuangkan apa yang ada di otak. Tulisan mengalir begitu saja, bahkan sering menyimpang dari apa yang ada dipikiran. Cinta Abi, Tulus dan Ikhlas awalnya hanya ingin menunjukkan bahwa cinta itu tidak harus memiliki, derajat tertinggi cinta ketika seseorang itu tulus memberikan dan ikhlas terhadap ketentuan. Pertama kali memikirkan jalan cerita, tokoh utama yaitu Abi di akhir cerita meninggal dunia. Tetapi karena tidak ada kerangka cerita, jalan cerita jadi berubah wlaupun tetap tidak menghilangkan pesan yang ingin disampaikan.
    Mungkin resensi dari guru berpengalaman di bidang sastra seperti bu lilis diatas adalah pesan yang ingin saya sampaikan.
    Sekali lagi terima kasih untuk Kak Lilis Indrawati.

  6. 28 November 2008 pukul 3:16 am

    Sudah Dik, sudah Kakak data.Hanya kesalahan kecil dalam penulisan ejaan. tapi rasanya tidak enak kalo kakak tulis di sini. Bahkan kakak juga kutipkan sekuen-sekuen yang mengandung kesalahan ejaan. Rencananya akan Kakak kirim ke email. Tapi sekarang flashdisk saya diblokir shg tidak bisa dibuka. Insya Allah besok Dik. Sebenarnya karya sastra tidak teikat EyD tetapi akan menjadi hebat jika ttap memperhatikan EyD. Sastrawan juga perlu menguasai tata bahasa.
    Sutan Takdir Alisyahbana pernah mengatakan bahwa tidak mengurangi kemenarikan jika tulisan (oleh siapa pun dan untuk siapa pun) tetap menggunakan bahasa yang sesuai dngan kaidah tata bahasa.

    deje : Ok! aku usahakan pelajari EyD nya juga… Aku tunggu file kritikannya

  7. setyo bayu ardany
    28 November 2008 pukul 9:48 am

    aku juga uda mengikhlaskannya kok mas << Bayu mode ON

    karena aku juga jarang baca-baca, tapi sebagai pengamat pemula aku rasa ini cerpen udah Mantaff…

    trims mas

  8. 28 November 2008 pukul 6:15 pm

    Assalamualikum,

    Pertama kali saya membaca tulisan-tulisan si deje melalui media wordpressnya, tanpa sadar otakku mulai berproses dan menganalisa, hingga akhirnya memberi kesimpulan: “wah anak ini berbakat dan cocok untuk menjadi penulis”. (Maklum otakku sudah dirasuki oleh hantu komputer digital, sehingga semua yang tertangkap oleh inderaku selalu saja saya proses, dan saya tarik kesimpulan).

    Deje begitu brilliant dan lepas menggambarkan situasi yang ada, baik sedih, senang, ceria, jiwa merdeka, terkungkung, dan lain-lain. Kemudian menuangkannya pada tulisan.

    Pernah saya berkomentar: “sudah pinter nulis gitu loh!!!” (itu kalau deje masih ingat dengan omonganku sih. Tapi saya yakin deje lupa, karena alam bawa sadarnya mengatakan: “ah informasi sampah nggak usah dipikir”) .

    Dan untuk kedua kalinya aku baca wp-mu. Surprise!! ternyata ada kejutan baru. Si deje bikin cerpen. Bravo!!! Excellent!!! Ternyata otakku masih sehat dalam menganalisa dan mengambil kesimpulan, deje jadilah penulis.

    Kuharap kamu melebihi andrea hirata.

    ————————————————————————————

    Komentar dibuat pada hari sabtu pahing, jam satu dini hari, oleh sahabat mizone (pls jangan ceritakan peristiwa bikin malu di masjid tempo hari)

    deje : Wa’alaikumsallam…
    Akhirnya dapat komentar dari seorang penulis buku dengan kemampuan teknis yang sangat luar biasa. Semangat belajar dan belajar dari sampeyan suatu modal yang berharga. Kadang saya iri melihat semangat terus berkembang yang sampeyan miliki.
    Terima kasih juga buat supportnya…
    Insya Allah saya menyusul sampeyan…

  9. lea_Zahra
    30 Desember 2009 pukul 12:20 pm

    asalam… wah subhanalloh…

    ceritanya,,,, sangat bagus

  10. khair
    13 Maret 2010 pukul 1:54 pm

    Subhanalloh,.. Alloh mengetahui segala sesuatu yang tersembunyi di balik hati.
    nuansa aliran jiwa tertoreh dalam rangkaian cerita,. pelan tapi pasti meyakini bahwa cinta yang mengakar kuat kepada Illahi Rabbi takkan pernah menyakiti,..😀

  11. aidarabbani
    27 Oktober 2010 pukul 3:05 am

    cerpennya enak dibaca, alurnya tidak bertele-tele.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: