Beranda > Cerpen > Cinta Abi, Tulus dan Ikhlas (bagian 3)

Cinta Abi, Tulus dan Ikhlas (bagian 3)

Gulungan ombak yang menderu diiringi hembusan angin yang ringan namun mampu menyapu butiran-butiran pasir yang terhampar membuat suasana pesisir pantai sangat indah. Abi tampak asyik merapikan buku-buku yang berserakan di lantai gubuk samudra nya. Saat matahari hendak menyentuh cakrawala, suara lembut seorang gadis mengagetkan Abi.

“Assalamu’alaikum,” sapaan itu serasa menghentikan seluruh peredaran darah Abi. Ia hafal betul suara itu.

“Wa ‘alaikum salam Warahmatulah, Nisa ?” sesaat wajahnya sedikit pucat, namun dengan segera Abi dapat menguasai keadaan dan seakan tidak terjadi respon apa-apa pada wajahnya. Itulah salah satu kelebihan Abi.

“Nisa ingin bicara dengan Abi. Sudah 5 tahun kita tak bertemu,” kata Nisa yang tampak anggun dengan kerudung berwarna biru.

Abi kembali menyibukkan diri dengan buku-bukunya. Dia berusaha mengendalikan deburan di jantungnya yang tiba-tiba menggila. Bukan hanya karena perasaannya yang begitu dalam terhadap Nisa, tapi karena dia sekarang merasa rendah diri dihadapan seorang calon dokter yang hendak dipersunting ustadz.

“Besok pagi semuanya akan jelas bi, “ sengaja Nisa menggantung pertanyaanya dengan harapan tanggapan yang lebih dari Abi. Namun Abi masih saja dingin.

“Aku ingin mendengar saran dan pendapat Abi tentang Bayu, “ Nisa duduk disamping sebuah rak buku sambil berusaha menenangkan degup jantungnya.

Abi mulai membayangkan sosok Bayu. Dia mengenal Bayu sejak kecil. Abi mengakui bahwa Bayu adalah sahabatnya yang baik dan tampan. Meskipun terkadang tampak kesombongan pada Bayu. Namun setelah lama tak bertemu, ia yakin Bayu sekarang lebih arif dan bijak. Ilmu dan tempaan di pondok pasti telah membentuk akhlak yang semakin mempesona.

Yang membuat dadanya menyesak sebenarnya, karena ia pun menyimpan perasaan yang dalam terhadap Nisa. Abi pun berencana melamar Nisa selepas wisuda bulan depan. Ternyata telah didahului orang lain. Dan yang membuat nyeri hatinya, orang itu adalah Bayu sahabat terbaiknya.

“Bagaimana, apakah ada saran ?” Nisa tampak tidak sabar. Dan berharap ada perubahan pada wajah Abi terlebih mengharapkan kejujuran Abi.

Sempat ada keinginan untuk menyampaikan apa yang sebenarnya ia rasakan. Namun, pikiran jernih Abi menyadarkannya. Realitasnya gadis yang selama bertahun-tahun ia harapkan hendak ia persunting bulan depan, ternyata ada orang lain yang jauh lebih siap. Ia merasa kejam, jika menyarankan untuk menolak lamaran itu dan menerima lamarannya bulan depan. Ia merasa seperti menikam saudaranya sendiri dari belakang.

“Bayu adalah teman terbaikku. Sangat sulit mencari alasan untuk menolak lamaran orang sebaik dia,” jawaban yang cukup tegas dan tanpa keraguan, walaupun sebenarnya di dasar hatinya ada getar-getar penolakan yang sangat luar biasa. Namun, itulah Abi. Kepandaiannya menyimpan perasaan pada akhirnya menyakitkan dirinya sendiri.

“Itu berarti Abi menyarankan Nisa untuk menerima lamaran Bayu?” penegasan Nisa menunjukkan bahwa ia ingin jawaban yang lain.

“Ya itulah penilaian saya terhadap Bayu secara obyektif. Namun semua keputusan ada pada Nisa, cobalah untuk istikharah,” kembali Abi menjawab dengan penuh keyakinan.

Nisa terdiam. Matanya mulai berkaca-kaca. Dia tak dapat menutupi perasaannyat. Lalu ia coba palingkan wajahnya di antara susunan buku-buku yang tampak tertata rapi.

Sebagai penulis, Abi mampu membaca perasaan Nisa. Ia tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Nisa saat ini. Mimik wajah dan perubahan sikap Nisa yang tiba-tiba telah ia tangkap sebagai ungkapan hati bahwa sebenarnya Nisa juga sangat berharap kepada Abi.

Mentari di ufuk timur semakin tenggelam ditelan hamparan samudra. Semburat jingga tampak indah di ujung sana. Namun, tidak sama halnya dengan hati kedua insan ini.

“Hari sudah semakin sore, kembali lah ke rumah. Keluargamu pasti sedang menunggu,” suara Abi membuyarkan keheningan yang terjadi beberapa saat.

Nisa berusaha menutupi kesedihan yang tampak jelas pada wajahnya. Rasa kecewa yang sangat berat ia rasakan. Tampak senyum yang ia paksakan. Dan sesaat setelah ia baca beberapa judul buku dan berkas yang ada di meja ruangan itu, ia palingkan tubuhnya.

“Semoga saranmu benar-benar yang terbaik bagi kita semua dan tidak ada penyesalan diantara kita, Assalau’alaikum, ” Nisa berkata lirih dangan nanar mata yang berkaca-kaca. Langkahnya tampak gontai tak sesemangat awal kedatangannya tadi.

Semua gerak-gerik Nisa dapat disimpulkan dengan pasti oleh Abi. Kesunyian sore itu menjadi luapan emosi Abi, ia tak lagi dapat menahan kesedihan yang mendera sejak kehadiaran Nisa. Mendung di wajahnya tak lagi dapat ia tenggelamkan. Derai air mata tak lagi terbendung. Hanya pena dan lembaran kertaslah menjadi saksi perasaan Abi.

***

(bersambung)

Kategori:Cerpen
  1. ratih
    22 November 2008 pukul 4:28 am

    hmmm…
    sakit memang..tapi juga pilihan yang sulit untuk jujur mengungkapkan perasaam sendiri….
    i hope happy ending

  2. 24 November 2008 pukul 7:47 am

    *terpengaruh*

  3. 4 Desember 2008 pukul 9:43 am

    suwun mas…… Untuk CATI ke 3..

  4. 4 Desember 2008 pukul 9:43 am

    lohh… kok pedot.. besuk tak lanjutin lagi

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: