Beranda > Cerpen > Cinta Abi, Tulus dan Ikhlas (bagian 2)

Cinta Abi, Tulus dan Ikhlas (bagian 2)

“Nduk, kapan kamu pulang ? Bayu sudah menunggu kepastian dari kamu, ” suara lembut dari ujung HP Nisa itu seakan menggelegar keras dalam hatinya.

“Nisa masih harus menyelesaikan beberapa tugas kampus, bu”

“Bukannya kamu tinggal menunggu wisuda saja nduk”

Inggih, tapi masih ada beberapa yang harus Nisa selesaikan sebelum wisuda bulan depan”

“Ibu lama-lama tidak enak dengan nak Bayu, kalau terus-terusan menggantung, ” kali ini suara itu tampak mengiba.

“Insya Allah, minggu depan Nisa akan pulang dan memberikan jawaban itu kepada Bayu, mohon do’a dari ibu”

“Ibu selalu mendo’akan untuk kebahagian kamu nduk, tapi ibu berharap kamu tidak mengecewakan Bayu. Dia lelaki yang baik, apalagi Bayu yang lulusan pondok bisa menjadi imammu kelak. Ibu tahu Abi juga sangat baik, tapi kamu harus memikirkan kebahagian keluargamu kelak. Fisik Abi yang tidak lengkap serta hari-hari yang hanya ia habiskan di tepi pantai membuat ibu ragu apakah dia benar-benar bisa membahagiakan kamu kelak. Dan seperti yang kau ceritakan minggu lalu, bahwa Abi tidak menunjukkan tanda-tanda ia mencintaimu.”

Awan terasa bertumbukan dan secara perlahan menghalangi pancaran sinar mentari. Debu-debu berterbangan saling berdesakan. Alam semakin gelap menghitam. Nisa pun tak mampu menahan derai air mata yang selama ini berusaha ia simpan. Penjelasan sang ibu tercinta bagai tombak prajurit perang yang menghatam dengan keras tepat di jantungnya. Nama yang salama ini berusaha ia tenggelamkan muncul kembali.

“Nduk, kamu tidak apa-apa kan?” kelembutan suara ibu memecahkan keheningan beberapa saat.

Inggih, Nisa tahu yang terbaik, bu, “ sambil menahan paraunya suara sehingga tak tampak kesedihan yang menggelayut hatinya.

“Ya sudah, terus mohon petunjukNya. Wassalamu’alaikum”

“Wa’ alaikum sallam Warahmatullah Wabarakatuh”

Perbincangan dengan sang ibu tercinta semakin membuat Nisa bimbang memutuskan masa depannya. Ia sangat sadar, bahwa Abi masih sangat melekat di dasar hatinya. Hal ini membuat dia ingin mengutarakan semua perasaannya kepada Abi. “Tapi aku kan wanita, kenapa harus aku yang mengungkapkan?” hati Nisa menolak rencana terebut.

***

Kepulangan Nisa sangat dinantikan keluarga besarnya, terlebih Bayu yang saat ini sedang menanti sebuah jawaban langsung dari pernyataan Nisa. Masyarakat pesisir pantai selatan pun sangat tidak sabar melihat bunga desa itu kembali berada di tengah-tengah mereka. Bagi masyarakat yang masih sangat jauh dari kemajuan ini, memiliki anggota masyarakat yang sukses menempuh ilmu di luar kota dan kembali ke desanya adalah sebuah anugerah. Apalagi Nisa adalah calon dokter yang sangat dibutuhkan orang-orang pesisir pantai selatan tersebut.

Setahun yang lalu, hal serupa juga terjadi pada Bayu putera pak Hasyim pengasuh satu-satunya pondok pesantren yang ada di desa tersebut. Saat itu Bayu baru saja menyelesaikan pendidikannya di Pondok Modern Gontor. Bayu disambut bak pahlawan yang telah mencurahkan segalanya di medan perang. Maklum, Bayu adalah penerus sang Ayah untuk membesarkan pondok pesantren yang sangat dibutuhkan masyarakat pesisir pantai selatan. Bagi masyarakat, cukuplah mempercayakan pendidikan anak-anak mereka pada sebuah pondok pesantren sederhana.

Satu sosok lagi yang dulu sangat diharapkan kontribusinya oleh masyarakat pesisir adalah Abi. Semenjak di Madrasah Tsanawiyah dulu, ketiga mutiara-mutiara desa itu selalu bersaing untuk menjadi yang terbaik. Tapi Bayu dan Nisa selalu saja tidak dapat mengungguli Abi yang sangat cemerlang. Abi memiliki jiwa kepemimpinan yang sangat kuat, bahkan masyarakat sekitarnya pernah berharap kelak Abi bisa memimpin Kota Lumajang, sehingga desa mereka tidak terpuruk seperti saat ini.

Tapi kondisi ekonomi keluarga dan cacat fisik yang dialami Abi membuat semuanya berubah. Abi lebih memilih bersama anak-anak para nelayan untuk menghabiskan waktu di sebuah gubuk yang ia namakan “Gubuk Samudra”. Hobi membaca yang kental pada jiwanya, ia tularkan kepada anak-anak yang tidak mampu sekolah di pesisir pantai selatan tersebut. Keterbatasan kondisi fisik tidak mencegah dia untuk berbuat sesuatu. Di Gubuk Samudra ini juga Abi telah menghasilkan karya-karya sastranya lewat beberapa novel yang telah beredar di perkotaan dengan nama pena Samudra Biru. Salah satu novelnya yang sangat fenomenal adalah Kutunggu engkau di tepi samudra, yang sebagian besar merupakan ungkapan hatinya terhadap Nisa.

Saat Nisa menginjakkan kakinya di pelataran rumah sederhana dengan halaman yang cukup luas, beberapa keluarga, tetangga bahkan Bayu menyambut kedatangannya. Nisa melempar senyum manisnya kesemua orang yang telah ramai di rumahnya. Satu persatu ia pandangi wajah mereka, “Dimana Abi?” perasaannya mengingat nama itu lagi.

“Assalamu’alaikum,” sambil mencium tangan sang ibu dengan penuh takzim.

“Wa ’alaikum sallam Warahmatullah,” wajah sang ibu sangat teduh menyambut putri tercinta.

“Ibu sehat? Kondisi Bapak bagaimana bu?” mereka berjalan dengan penuh mesra memasuki rumah yang bercat serba putih melalui sebuah ruang tamu yang mungil dan langsung menuju kamar depan. Di dalam kamar yang tampak bersih dan rapi, sang ayah yang berbaring di atas dipan sederhana tampak berseri melihat putri kebanggaannya.

“Ibu sehat wal’afiat, ayahmu masih saja sulit kalau diajak berobat ke Rumah Sakit,” sambil melirik ke suaminya berharap sang suami tersindir.

“Ayah kan ingin dirawat oleh dokter paling cantik yang telah ayah besarkan ini,” ujar sang ayah dengan penuh sayang mencium dahi Nisa.

“Ya itulah ayahmu nduk, paling pintar kalau memuji orang. Ibu dulu juga korban pujiannya”

“Tapi memang benar bu e, sekarang saja tubuhku sudah terasa sehat dengan kehadiran Nisa”

Nisa membantu sang ayah yang berusaha bangkit dari baringnya dan menyiapkan bantal untuk bersandar.

“Nisa,” saat suara itu terdengan dari sang ayah, Nisa merasakan ada sesuatu yang ingin dibicarakan dengan serius.

Dalem, yah..”

“Ayah merasa bahagia Allah menganugerahkan seorang putri yang cantik, pintar dan lembut seperti kamu nduk

“Semua kan juga karena didikan ayah dan ibu selama ini”

“Tapi ada satu hal yang masih ayah inginkan nduk, Ayah ingin melihatmu bahagia dengan seorang pendamping hidup yang memiliki ilmu agama dan ahlak yang baik”

Deg, getaran jantung Nisa mulai tak tertahan. Detik demi detik ia rasakan bagai gong yang bertalu-talu.

“Ayah melihat sosok Bayu adalah apa yang ayah harapkan selama ini, dia lelaki yang gagah, sopan, ahlaknya baik dan memiliki ilmu agama yang tidak diragukan”

Kamar yang begitu bersih dan rapi tiba-tiba serasa berantakan dan terlihat porak poranda di setiap sudutnya. Udara terasa bagai asap polusi yang masuk ke paru-paru Nisa. Kepala Nisa mulai terasa pening, dia bingung apa yang terjadi pada dirinya.

“Ayahmu benar nduk, ini sudah saatnya kamu memikirkan kebahagianmu. Ibu juga sudah tidak sabar pingin menimang cucu,” suara lembut sang ibu secara perlahan mengembalikan beberapa bagian kamar yang porak-poranda dan bagai angin yang mendorong asap polusi keluar dari ruangan itu.

Secara tak sadar, pikiran Nisa mulai membandingkan Bayu dan Abi. “Wanita mana yang tidak luluh hatinya, ketika seorang ustadz gagah dan tampan seperti Bayu datang melamarnya,” ada suara dalam jiwanya yang mengatakan hal itu. “Tetapi aku masih merasakan cinta yang tulus dari Abi, walaupun dia tidak pernah menampakkan secara nyata,” pertanyaan berikutnya menyusul dari dalam jiwanya. “Bayu sudah jelas mencintaiku, apakah Abi benar-benar mencintaiku!??” keraguan itu mulai muncul.

“Besok nak Bayu datang kerumah nduk, dia berharap mendapat jawaban langsung dari kamu,” ujar Ibu sambil meletakkan teh hangat tidak begitu manis kesukaan Nisa.

“Jika hal itu membahagiakan Ibu dan Ayah, Nisa mohon do’anya. Semoga Allah memberikan yang terbaik bagi kita semua”

***

(bersambung)

Kategori:Cerpen
  1. ratih
    21 November 2008 pukul 1:59 am

    ada berapa episode mas?
    rencana mau happy ending ato sad ending?

    deje : d tunggu aja yak,😉

  2. Pengamat
    21 November 2008 pukul 3:43 am

    wah jd deg2an nunggu kelanjutannya^_^
    eh bentar2..abi,nisa dan bayu…bukannya mereka tu satu kelas mulai kelas 1 ampe kelas 3 di tsanawiyah ya…spetinya aq kenal…klo bisa ntar critanya dibikin ampe mereka usia lanjut ya..kembangkan imajinasimu..kan da banyak sumber inspirasinya,ni permintaan khusus dari pengamat^_^
    Keep istiqomah ya…

    deje : selamat ber ‘dag dig dug’ ria, terima kasih buat masukannya, Insya Allah dipertimbangkan. BTW pengamat kenal mereka darimana, bukannya mereka ada hanya di dunia fiksi, jangan-jangan pengamat dari dunia fiksi juga, jadi serem…😉

  3. 21 November 2008 pukul 7:10 am

    Tambah penasaran aja nih …. jangan panjang sekuelnya keburu males ntar bacanya😀

    deje : OK deh… aku mampatkan lagi…

  4. 21 November 2008 pukul 11:04 am

    yg panjang aja mas
    seru2
    *menikmati baca2*

    deje :😉 semoga ceritanya berkesan, maklum cerpen pertama…

  5. 21 November 2008 pukul 11:06 am

    o iya
    blogna smpyn tak link yo
    suwun

    deje : OK… dengan senang hati,😉

  6. 4 Desember 2008 pukul 8:36 am

    Tambah SIP….. hemmm…😉 berkarya terus aja mas…………….

    Tukeran link dunk..😛

    deje : Okey thanks ya….

  7. intan rafika
    28 Januari 2009 pukul 7:38 am

    maz………….. ceritanya seru loh moga ja maz bisa succes dgn sma cerita mas

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: