Beranda > Cerpen > Cinta Abi, Tulus dan Ikhlas (bagian 1)

Cinta Abi, Tulus dan Ikhlas (bagian 1)

———————————————————————-
Mulai pertengahan nopember ini, si deje menambahkan satu kategori lagi, yaitu cerpen.
Karena masih dalam tahap belajar, so mohon kritik dan saran yang konstruktif.
Cerita-cerita yang tertuang murni fiksi, jika ada nama, lokasi dan kejadian yang sama semuanya hanya kebetulan.

———————————————————————-

Sinar mentari pagi itu terasa terhalang gumpalan mendung yang sangat tebal, hebusan angin tenggara yang sejuk serasa menjauh dari tubuh Abi. Napasnya pun menyesak tersenggal di dada, terpejam menahan gerimis yang hendak merembes di pelupuk matanya. Saat itu Abi merasa bagai merpati tua yang telah kehilangan tenaga, bahkan hanya sekedar untuk mengepakkan sebelah sayapnya.

Saat sinar matahari menerebos gubuk yang tepat menghadap ke timur, cahaya itu menerpa wajah Abi yang beberapa saat lamanya pucat pasi tak bergairah. Dia merasakan kehangatan yang Allah berikan melalui sang surya sebagai tenaga baru. Dia tersadar dengan busur pelangi yang tampak disudut matanya, lalu kembali membaca pesan pendek dari seseorang yang selama ini hadir dalam setiap sujudnya. “Bayu datang melamarku di saat aku membutuhkan imam. Mohon do’anya ya…”, pesan singkat yang seharusnya indah seolah menjadi anak panah yang menghujam tepat di jantung Abi.

Abi mencoba melawan penolakan yang terjadi di dalam jiwanya, berfikir lebih realistis dan dengan ketenangan yang tampak ia paksakan, dia tekan tombol replay disudut kanan keypad HP bututnya. “Insya Allah do’a ku untuk kebaikanmu tidak pernah terlepas disetiap sujudku, semoga berbahagia”. Send!

***

Tengah malam yang sunyi, di bawah guyuran gerimis seorang gadis berparas ayu duduk termangu di meja belajar sebuah kamar kos yang sudah 5 tahun ia tinggali. Jarinya memainkan pena hitam yang selama ini menjadi saksi bisu tentang apa yang terjadi pada dirinya. Sebuah diary yang lebih dari separuhnya telah terisi coretan-coretan sejarah perjalan hidupnya menunggu dengan sabar untuk menerima curahan-curahan hatinya.

Nisa masih saja belum menggerakkan pena nya ketika jam meja kenangan dari Abi berdering tepat pukul 1 dini hari. Malam ini matanya tidak bisa terpejam walau hanya semenit saja, pikirannya bergelayutan sejak 18 jam yang lalu ketika sebuah sms balasan dari Abi sahabatnya ia terima. Dia sengaja menunggu selam 18 jam untuk memutuskan langkah apa yang harus ia ambil selanjutnya.

Jemari yang lentik itu mulai menggerakkan pena diatas lembaran diary yang memang sudah siap untuk menjadi luapan emosi bagi sang empunya. Dengan sabar diary itu menampung curahan hati Nisa.

“Cukup! sudah cukup waktu untuk menantimu. Aku putuskan untuk memilih dia yang selama ini hadir disetiap suka dukaku.”

Tepat pukul 1 lebih 8 menit dini hari, 18 kata telah ia goreskan setelah 18 jam lamanya Nisa menunggu respon yang berbeda dari Abi yang selama ini ia harapkan menjadi imam dalam hidupnya kelak. Nisa telah memutuskan untuk tidak lagi berharap akan kehadiran Abi di sisinya. Detik itu juga, ia memutuskan untuk menerima Bayu yang selama ini sangat perhatian kepadanya untuk menjadi pendamping hidupnya.

Nisa menutup rapat diary yang selama ini setia menjadi tempat curahan hatinya. Dia bungkus rapi dengan kertas kado polos tanpa pola, lalu ia masukkan kedalam sebuah kotak kecil seukuran dengan diarynya. Kotak yang membisu itu, ia letakkan pada tumpukan terbawah di dalam kardus yang berisi buku-buku yang sebagian besar adalah diktat-diktat ilmu kedokteran yang sangat membantu ia di awal perkulihan 5 tahun silam.

***

“Ibu, tidak habis pikir… Padahal dulu Nisa lah yang berterus terang kepada ibu tentang perasaannya kepadamu le…”, ujar wanita tua yang tepat duduk di hadapan Abi dengan wajah penuh kekecewaan, setelah mendengarkan berita tentang Nisa yang disampaiakan Abi putra tercinta.

“Sudahlah bu, Nisa sudah memutuskan yang terbaik baginya. Apalagi Bayu juga sahabat terbaikku,” Abi menghibur sang ibu dengan mencoba membesarkan hatinya, walau sebenarnya segumpal daging yang ada dalam dadanya juga menolak kenyataan ini. Tidak dapat dipungkiri bahwa Abi juga sangat mencintai Nisa, namun Abi tidak pernah menceritakan kepada siapapun bahkan kepada ibunya. Tapi sang ibu sangat paham apa yang dirasakan buah hatinya.

Abi teringat 5 tahun yang lalu saat Nisa meninggalkan sebuah desa kecil di pesisir pantai selatan Kota Lumajang untuk mengejar cita-citanya menjadi seorang dokter pada sebuah universitas negeri di Kota Malang. Saat itu Abi melepas Nisa dengan berat dan merasakan ada bagian hidupnya yang hilang. Karena Nisalah satu-satunya sahabat yang selalu membangkitkan semangat hidupnya yang sempat hilang semenjak kecelakaan itu.

Kecelakaan yang menyebabkan Abi mengalami luka bakar pada beberapa bagian tubuhnya dan harus kehilangan tangan kirinya. Saat kebakaran besar terjadi di sebuah pasar tradisional beberapa tahun silam, Abi bak pahlawan kesiangan berusaha menerebos lautan si jago merah untuk mencari Nisa yang saat itu sedang membatu orang tuanya berjualan di pasar tersebut. Namun malang benar nasib Abi, ketika berusaha masuk melalui posisi terdekat dengan lapak milik keluarga Nisa, sebuah balok besar terjatuh dan menimpa lengan kiri Abi. Dia terkulai lemas dan tak berdaya ketika api menjilati tubuhnya. Untung saja saat itu posisi Abi tidak terlalu masuk ke dalam pasar, sehingga warga masih sempat menyelamatkan nyawanya. Padahal saat itu, lapak milik orang tua Nisa sedang tutup.

Saat tersadar, Abi sudah terkulai lemah di sebuah bangsal Rumah Sakit Umum Daerah dengan kondisi tangan kiri sudah berbalut perban sejengkal dari ketiaknya. Dia merasakan desakan puluhan jarum yang menyerang sikunya. Nyeri sangat terasa ketika pengaruh obat bius telah sirna. Tetapi nyeri itu tidak tertandingi dengan nyeri yang ada di hati Abi ketika mendapati lengan kirinya telah hilang entah kemana!? Saat mendung menggelayut pada wajah Abi, Nisa hadir bagai mentari yang menghangatkan. Butiran air mata di sudut kelopak mata Abi tak tertahankan, Nisa hadir mengubah air mata itu menjadi sumber kekuatan bagi Abi.

Kehadiran Nisa inilah yang akhirnya mengembalikan jiwa Abi yang sempat teramputasi juga. “Lengan kiri Abi boleh teramputasi, namun jiwa Abi harus tetap utuh”, dengan wajah yang penuh kasih sayang Nisa menambal lubang-lubang jiwa Abi. Tanpa mereka sadari, benih-benih cinta tumbuh diantara mereka. Namun mereka tidak pernah mengungkapkan perasaan masing-masing. Bahkan Abi terkesan tidak berterus terang pada dirinya sendiri dan cenderung bersikap dingin.

***

( bersambung)

Kategori:Cerpen
  1. 20 November 2008 pukul 2:02 am

    continue please
    klo udah jadi diterbitin aja mas

    deje : tunggu kelanjutannya esok hari, btw gak da kritik nih…😦

  2. 20 November 2008 pukul 3:24 am

    Sep…sep…. tertata dengan apik setiap jengkal kata yg terurai, terusin mas aku tunggu sekuelnya dan berharap abi menjadi pendamping nisa.
    btw, mas deje orang lumajang ya ? aku pernah tinggal di lumajang juga loh🙂

    deje : ok mas, di tunggu sekuel berikutnya, besok pasti saya upload…. BTW lumajang mana mas, tahun brp?

  3. 20 November 2008 pukul 8:26 am

    Great! Abang satu ini, smakin trasah & pndai mmainkan kata. Jdi trmtivasi neh!🙂 just a little suggestion, gmna klo alurnya lbih dpercantik lgi, Biar yg baca, slalu ingin tahu, sesi2 brikutnya..😉

    deje : Thanks, dek.. itu juga karena selalu baca tulisan mbhemz, Salah satu sumber inspirasiku adalah tulisan2 kmu,😉 So, jangan berhenti nulis yak…
    Thanks juga buat kritiknya, hehe… aku juga ngerasaain kurang taste, mungkin karena emang secara teori gak tau nulis cerpen yang baik kayak apa!?
    Sekuel berikutnya pasti aku perbaikin.

  4. Ty$@
    20 November 2008 pukul 8:31 am

    Wah mas rahmat alih jadi penulis cerpen ya? hehehe
    Di tunggu kelanjutannya mas😉

    deje : Lagi belajar nih… Support ya..!! Tetap kunjungi aja catatan si deje, semoga cerita berikutnya lebih bermakna

  5. 20 November 2008 pukul 11:52 am

    Selamat memperluas wawasan ke dunia cerpen, Mas!
    Cerita “Cinta Abi Tulus dan Ikhlas” mulai mencuri emosiku. Aku tunggu lanjutannya.

    Tabik!

    dele : akhirnya pak Zul berkenan mampir juga, terima kasih support nya pak… ku tunggu kritik dan saran dari cerpenis seperti dirimu

  6. Pengamat
    20 November 2008 pukul 1:56 pm

    Apreciate dg settingny..lumajang pasti bangga..smentara blm ada kritik..

    deje : Terima kasih, Insya Allah dimanapun dan sampai kapanpun, tanah kelahiranku aku selalu aku bawa.

  7. ratih
    21 November 2008 pukul 1:52 am

    Hemmmm..
    komentarnya pengamat, kayak andrea hirata ja?heheh
    mau ikut promosi tanah kelahiran ya mas klu udah best seller???
    heheheh
    semangat ya…

    deje : thanks ya….🙂

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: