Beranda > Artikel, Tausiyah > Berbagi Bahagia

Berbagi Bahagia

Pernahkah merasa bahagia yang meluap-luap? Setiap orang pasti pernah merasakan kebahagian. Bahagia seorang anak ketika mendapat hadiah dari ibunya, bahagia seorang pelajar ketika bisa peringkat 1, bahagia seorang wanita ketika ada seorang kesatria yang sangat menghargainya. Dan bahagia-bahagia yang lain.

Pernahkah merasa bahagia yang luar biasa ketika mampu menghadirkan kebahagian bagi orang lain walaupun sebenarnya kita sendiri sedang ada masalah yang lebih besar…!? Nah yang ini tidak semua orang sanggup mewujudkannya. Karena ke-egoan manusia cenderung masih lebih dominan.

Bicara masalah berbagi bahagia, deje juga pingin berbagi bahagia lewat sebuah cerita. Begini ceritanya:

Dua orang pria, keduanya menderita sakit keras, sedang dirawat di sebuah kamar rumah sakit. Seorang diantaranya menderita suatu penyakit yang mengharuskannya duduk di tempat tidur selama satu jam disetiap sore untuk mengosongkan cairan dari paru-parunya. Kebetulan, tempat tidurnya berada tepat di sisi jendela satu-satunya yang ada di kamar itu.

Sedangkan pria yang lain harus berbaring lurus di atas punggungnya.

Setiap hari mereka saling bercakap-cakap selama berjam-jam. Mereka membicarakan istri dan keluarga, rumah, pekerjaan, keterlibatan mereka di ketentaraan, dan tempat-tempat yang pernah mereka kunjungi selama liburan.

Setiap sote, ketika pria yang tempat tidurnya berada dekat jendela di perbolehkan untuk duduk, ia menceritakan tentang apa yang terlihat di luar jendela kepada rekan sekamarnya. Selama satu jam itulah, pria kedua merasa begitu bahagia dan bergairah membayangkan berapa luas dan indahnya semua kegiatan dan warna-warna indah yang ada di luar sana.

“Di luar jendela, tampak sebuah taman dengan kolam yang indah. Itik dan angsa berenang-renang cantik, sedangkan anak-anak berain dengan perahu-perahu mainan. Betapa pasangan berjalan bergandengan tangan di tengah taman yang di penuhi berbagai macam bunga berwarnakan pelangi. Sebuah pohon tua besar menghiasi taman itu. Jauh di atas sana terlihat kaki langit kota yang mempesona. Suatu senja yang indah.

Pria pertama itu menceritakan keadaan di luar jendela dengan detail, sedangkan pria yang lain berbaring sabil memejamkan mata membayangkan semua keindahan pemandangan itu. Perasaannya menjadi lebih tenang, dalam menjalani keseharian di rumah sakit itu. Semangat hidupnya menjadi lebih kuat, percaya dirinya semakin bertambah.

Pada suatu sore yang lain, pria yang duduk didekat jendela menceritakan tentang parade karnaval yang sedang melintas. Meski pria yang kedua tidak dapat mendengar suara parade itu, namun ia dapat melihatnya melalui pandangan mata pria yang pertama yang menggambarkan semua itu dengan kata-kata yang indah.

Begitulah seterusnya, dari hari ke hari. Dan, satu minggu pun berlalu.

Suatu pagi, perawat datang membawa sebaskom air hangat untuk mandi. Ia mendapati ternyata pria yang berbaring di dekat jendela itu telah meninggal dunia dengan tenang dalam tidurnya. Perawat itu menjadi sedih lalu memanggil perawat lain untuk memindahkannya ke ruang jenazah. Kemudian pria yang kedua ini meminta kepada perawat adar ia bisa dipindahkan ke tempat tidur di dekat jendela itu. Perawat itu menuruti kemauannya dengan senang hati dan mempersiapkan segala sesuatunya. Ketika semuanya selesai, ia meninggalkan pria tadi seorang diri dalam kamar.

Dengan perlahan dan kesakitan, pria ini memaksakan dirinya untuk bangun. Ia ingin sekali melihat keindahan dunia diluar melalui jendela itu. Betapa senangnya, akhirnya ia bisa melihat sendiri dan menikmati semua keindahan itu. Hatinya tegang, perlaham ia menjengukkan kepalanya ke jendela di samping tempat tidurnya. Apa yang dilihatnya? Ternyata, jendela itu menghadap ke sebuah TEMBOK KOSONG!!!

Ia berseru memanggil perawat dan menanyakan apa yang membuat teman pria yang sudah wafat tadi bercerita seolah-olah melihat semua pemandangan yang luar biasa indah di balik jendela itu. Perawat itu menjawab bahwa sesungguhnya pria tadi adalah seorang yang buta bahkan tidak bisa melihat tembok itu sekalipun.

“Barangkali ia ingin memberimu semangat hidup”, kata perawat itu

Kategori:Artikel, Tausiyah
  1. Pengamat
    27 Oktober 2008 pukul 12:21 pm

    Say’s..Amiiin


    deje : Amiiin…,pengamat muncul lagi…, masih setia mengamati ya..!?
    Hati2 lo, ntar malah nyari2 terus…🙂
    O ya, tp klo pasang email yo jangan email q rek… gravatarnya yang muncul fotoku…
    Shermangat.. semoga sukses ujiannya…

  2. Pengamat
    15 November 2008 pukul 11:44 am

    Lah klo pake email sendiri gravatarnya mirip hantu jepang semua…kan jd g kerrenzz
    Shermangat wez (ketauan juga hikz…)

    deje : so, klo pake email ku gravatarnya keren dong !?🙂 hehe… jadi penasaran ma nih pengamat…

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: