Beranda > Ceritaku > Beratnya sebuah konsekuensi

Beratnya sebuah konsekuensi

Konsekuensi merupakan tindak lanjut dari apa yang telah kita ikrarkan. Hal ini bukanlah yang mudah ! Kadang kita mudah mengatakan sesuatu ke orang lain, tapi konsekuensinya kita harus sesuai dengan apa yang kita katakan. Apalagi bagi seorang yang sering bicara di depan publik atau seseorang yang suka menuangkan ide-idenya lewat tulisan, maka konsekuensi minimal adalah tidak menyalahi apa yang telah dipaparkan. Jangan sampai label NATO (Not Action Talk Only) melekat pada diri kita. Allah mengingatkan kita dalam Al-Quran Surat As-Shaff Ayat 3 “Amat besar KEBENCIAN di sisi ALLAH bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.”

Bagi deje, konsekuensi untuk share catatan ke teman-teman lewat blog ini juga merupakan sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan. Ketika deje memaparkan tulisan dengan judul “Menunggu ternyata mengasyikan“, maka mau gak mau deje harus bisa mengelola waktu menunggu dengan sebaik-baiknya, jangan sampai mengeluh ketika menunggu, jangan sampai negative thinking ketika harus berjam-jam ‘garing’ menunggu temen.

Kasus yang terakhir adalah ketika si deje memaparkan tentang tingkatan persahabatan pada reportase Halal bi halal Alumni SMPN 1 Pasirian tahun 2008. Tulisan tersebut deje posting tanggal 5 Oktober kemaren, belum habis bulan oktober ini beberapa konsekuensi sudah harus dihadapi. Konsekuensi untuk lebih mengenal saudara-saudara deje lebih dalam lagi, lebih mengenal tetangga, lebih mengenal rekan kerja, lebih mengenal sahabat-sahabat yang selama ini terkesan ter-cuekan, dll.

Minggu (12/10) kemaren sebagai pembuktian tentang sebuah konsekuensi, Allah menguji hambaNya. Ketika tubuh ini lelah setelah lama tidak futsal, tiba-tiba ada sms masuk yang mengabarkan salah satu temen sekolah STM dulu ada yang kecelakaan, dan kondisinya lumayan parah. Saat itu juga, aku berinisiatif untuk menggalang dana dan berangkat ke Mojokerto.

Ternyata konsekuensi benar-benar berat. Setalah telepon sana- telepon sini, semua temen-temen tidak ada yang bisa ikut saat itu. Deje sendiri sebenarnya dalam kondisi yang sangat letih. Sempet terpikir tentang tulisan yang pernah deje share di blog. Dan inget peringatan Allah di Surat As-Shaff, bikin hati ini miris… Ya Allah sungguh diri ini sangat tidak berdaya..

Akhirnya kuputuskan untuk berangkat minggu depan (19/10) dengan asumsi mengumpulkan dana lebih banyak lagi melalui milis temen-temen alumni. Tapi, apakah konsekuensi dapat ditawar seperti ini !!?? Pertanyaan yang menyeruak dalam hati…. Ku raih HP dan kuhubungi nomer Wida (temen yang kecelakaan), dan kusampaikan permohonan maaf ku karena tidak bisa menjenguknya, ku support keluarganya dan kubesarkan hatinya. Semoga niat dan usaha ini sebagai bentuk dari konsekuensi yang dinilai amalan oleh Allah SWT.

Kategori:Ceritaku
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: