Beranda > Ceritaku > Nikmatnya goresan hati

Nikmatnya goresan hati

Seorang teman butuh bantuan untuk menjawab sebuah sms dari sahabat barunya. Penggalan sms yang membuatnya bingung untuk menjawab adalah, “maaf telah menggores hati”. Sepintas tidak ada masalah dengan permintaan maaf tersebut. Tapi masalahnya teman ini merasa luka dihatinya kembali meradang.

Akhirnya si Deje membantunya dengan sebuah cerita. Lho… orang lagi bingung kok malah di dongengin.!? Tenang aja, ada hikmah dibalik cerita menarik ini. Kisah ini tentang garam dan telaga.

Konon di sebuah desa ada seorang tua yang bijak. Suatu saat pak tua ini kedatangan tamu seorang pemuda dengan guratan kesedihan yang tampak diwajahnya. Tampaknya pak tua telah mengetahui kondisi pemuda tersebut dari raut mukanya. Pemuda ini sedang dirundung masalah, mungkin menghadapi persoalan hidup yang pelik atau mungkin hatinya terluka karena wanita atau persoalan yang lain.

Tanpa banyak bicara, pak tua mempersilahkan pemuda tersebut untuk duduk di ruang tamu yang sederhana dengan kursi dan meja yang mungkin seusia dengan pemiliknya. Sesaat setelah duduk dengan nyaman sang pemuda tidak dapat menahan penderitaannya, dia menceritakan semua permasalahannya dengan sesekali meneteskan air mata, kadang nada suaranya mendadak tinggi karena emosi dan kadang wajahnya berubah layu sambil merengek-rengek.

Pak tua masih sabar mendengar semua keluh kesah pemuda tersebut sambil menatap wajahnya dengan penuh kasih sayang sesekali senyum kecilnya mengembang. Melihat wajah pak tua yang begiitu damai seakan menegak seteguk madu yang manis diantara aliran racun yang pahit.

Setelah seluruh isi hatinya tercurah, pemuda tersebut tertunduk lesu dan pak tua bangkit sambil menepuk pundaknya. Energi positif secara perlahan berpindah dari tangan keriput pak tua ke pundak kekar pemuda tersebut lalu mengalir keseluruh pembuluh darahnya.

Pak tua berjalan perlahan kearah dapur yang hanya bersekat tirai dari ruang tamunya dan mengambil segelas air putih yang jernih dan segenggam garam. Lalu meletakkan gelas itu di meja tepat dihadapan pemuda yang sedikit lebih baik keadaanya daripada ketika pertama datang tadi. Pemuda tersebut memandangi gerak gerik pak tua dengan seksama. Dia melihat pak tua itu menuangkan sesuatu digenggamannya kedalam segelah air yang jernih tadi dan mulai mengaduk perlahan-lahan. Dia melihat perubahan air yang ada di dalam gelas kecil tersebut. Air yang semula jernih menjadi suram.

Dengan perasaan yang semakin penasaran, pemuda itu semakin seksama memperhatikan apa yang dilakukan pak tua tersebut. Tiba-tiba pak tua menghentikan adukannya. Dan keluarlah perkataan yang sudah dinanti-nanti sang pemuda sebagai penyejuk jiwanya. “Minumlah..!” Satu kata ibarat setetes air ditengah padang pasir yang gersang cukup membasahi kekeringan jiwa pemuda tersebut.

Tanpa berpikir panjang pemuda tersebut meraih gelas berisi air putih yang tak lagi sejernih awalnya dan meneguknya. Baru satu teguk, pemuda tersebut meletakkan kembali gelas tersebut dan tampak wajahnya menahan sesuatu. Kerongkongannya memaksa untuk meneguk air yang tersisa dirongga mulutnya. Belum sempat berkomentar, pak tua sudah mengelurkan perkataan berikutnya, “Bagaimana rasanya?”, kali ini satu kata lebih banyak dari ucapan yang pertama.

“Pahiiit…”, dengan wajah penuh kegetiran pemuda itu berteriak. Pak tua kembali mengembangkan senyumnya yang lebih lebar dari senyum pertamanya. Sesaat setelah itu pak tua beranjak sambil memberi isyarat pemuda tersebut untuk mengikutinya. Pemuda itu pun bangkit dan berjalan dibelakang pak tua sambil mengamati terus segala aktivitas pak tua tersebut. Lalu pak tua berjalan kebelakang melewati dapur dan mengambil lagi segenggam garam.

Tampak sebuah telaga dengan air yang jernih dibelakang rumah pak tua tersebut. Pemuda tadi, begitu takjub melihat pemandangan yang indah tersebut. Satu energi positif, ia dapatkan kembali melalui dua bola matanya yang langsung mengalir keseluruh jiwanya. Sambil terus berjalan dibelakang pak tua, pemuda tersebut melempar pandangannya kesegala penjuru telaga dengan hati sedikit lebih baik. Lalu ia melihat pak tua mengambil ranting pohon yang telah patah dan melemparkan garam yang ada digenggamannya lalu mengaduk-aduk telaga terebut dangan ranting yang kecil. Saat pemuda itu berdiri sejajar dengan tubuh pak tua yang tinggal kulit dan ulang tersebut, bersamaan dengan itu pak tua menghentikan adukannya.

“Ambil air itu, lalu minumlah…!” Perkataan yang lembut kembali mengalir melalui gendang telinga yang merindukakan kesejukan. Berbeda dengan sebelumnya, pemuda ini tampak hati-hati ketika menuruti perkataan pak tua tersebut. Perlahan, ia meneguk air telaga yang ada dikedua tangannya. Tanpa sadar ia meneguk seluruh air di cakupan kedua tangannya dan kembali mangambil air telaga yang tetap jernih walau pak tua tadi menuangkan segenggam garam, lalu pemuda tersebut membasahi wajahnya dengan air telaga tersebut.

Belum habis rasa puasnya dengan air telaga yang segar, pak tua melontarkan pertanyaan serupa, “Bagaimana rasanya?”. “Segaaaar…”, sambil terus membasahi wajahnya dengan air telaga yang bening tersebut. Lalu dengan sekuat tenaga pak tua tersebut menarik tubuh pemuda yang kekar tadi dan menghadapkan kearahnya, dengan tatapan yang tajam pak tua memulai perkataannya.

Segenggam garam adalah permasalah hidup yang diterima oleh siapapun. Sedangkan air yang bening ibarat hati kita. Ketika segenggam permasalahan hidup masuk kedalam hati bening selebar gelas kecil, maka sesaat saja hati akan menjadi suram. Lebih dari itu, kamu akan merasakan kegetiran dan kepahitan yang amat sangat sampai-sampai kau ingin memuntahkannya.

Namun, ketika segenggam permasalahan hidup masuk kedalam hati bening selebar telaga, maka kejernihan hatimu tak akan berubah. Bukanlah kegetiran dan kepahitan yang kau dapatkan. Sebaliknya sebuah kesegaran dan kesejukan jiwa yang kaudapat, bahkan sebuah kecanduanlah yang kaurasakan.

Yups…. Itulah cerita garam dan telaga yang Deje share ketemen yang lagi merasakan hal yang serupa dengan pemuda tadi, walaupun gak separah itu. Memang seberat apapun permasalahnn hidup, pahit atau manisnya tergantung kebesaran hati kita ketika menghadapinya. Apalah artinya tubuh kekar jika memiliki hati selebar gelas, sebaliknya sungguh luar bisa hati seluas telaga ada pada tubuh keriput yang tinggal kulit dan tulang saja. So, jadilah pemuda dengan tubuh yang kekar, jiwa yang kuat, otak yang cerdas dan hati seluas telaga bahkan samudra.

Akhirnya, temen tadi telah mendapat jawaban atas sms yang sempet membuat ia bingung. Dengan penuh keyakinan ia balas sms tersebut,

“Insya Allah hatiku lebih lebar dari goresan yang telah kau tinggalkan, terima kasih telah menghiasi hati ini dengan goresan indahmu”.

Wow jawaban yang luar biasa. Semoga disampaikan dengan ketulusan hati dan kebesaran jiwa.

Kategori:Ceritaku
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: