Beranda > Ceritaku, Puisiku > Perjalananku….

Perjalananku….

Minggu (5/10) kemaren si Deje menjalankan amanah temen-temen untuk menjenguk salah satu temen SMP yang sedang sakit. Sehari sebelumnya, ketika acara halal bi halal sempet ada acara penggalangan dana secara spontanitas untuk member sumbangan ke Ifa. So, melalui koordinasi melalui HP disepakati kita berangkat jam 6.30 dan ngumpul di rumah Qiqi.

Setelah berkumpul 4 orang, yaitu deje, qiqi, sigit dan mega kita langsung berangkat menuju lokasi, yang kira-kira berjarak 4km dari rumah qiqi. Tapi ternyata si Ifa ada dirumah mertuanya di daerah Rowokangkung. Kalau diperkirakan sekitar berjarak 15 – 20 km.

So, kita sepakat berangkat kesana. Keluar dari pasirian melalui jembatan “mujur” menuju kecamatan Tempeh, lalu ambil arah ke kanan menuju kecamatan Kunir, menempuh jarak yang lumayan jauh akhirnya memasuki kecamatan Yosowilangun dan sesaat kemudian masuk kecamatan Rowokangkung. Setelah itu puter-puter, tanya sana-sini mencari desa Gedungrejo. Akhirnya ketemu juga rumahnya.

½ jam berselang kita pamit tuk kembali ke pasirian. Tapi kali ini si deje tak langsung pulang, melainkan harus mengantar salah satu teman ke terminal Wonorejo, yang berjarak kurang lebih 10 -15 km. Entah mengapa perjalanan saat itu sangat menyenangkan, mungkin karena sebelumnya si Deje belum pernah lewat daerah terebut sehingga terkesan ada sesuatu yang baru atau mungkin ketika melewati JLT (Jalur Lintas Timur) yang baru aja selesai serasa melawati tol dengan hamparan sawah di kiri dan kanan atau ada hal lain yang membuat hati seakan mengembang layaknya bunga yang mekar.

Setelah melewati perjalanan panjang yang menyenangkan, akhirnya sampai juga di terminal wonorejo. Kuhantarkan dia pergi, dengan bis yang penuh sesak ia langkahkan kakinya meninggalkan kebersamaan yang sesaat ini. Perlahan roda kendaraan yang kadang bikin ulah dijalanan ini mulai bergerak, kulambaikan tangan dengan beriring do’a semoga selamat sampai tujuan. Dalam beberapa detik saja, dia telah menghilang ditengah kejauhan.

Dalam perjalananku pulang ke Pasirian, teringat sebuah puisi Ibnu Hazm El Andalusy dalam bukunya Dibawah Naungan Cinta.

Hari-hari telah Tuhan pergulirkan
Ada siang ada pula malam
Teratai putih ajari kita arti perpisahan
Berhari-hari daun dan bunganya indah menawan
Namun, satu malam bikin ia layu tak mengembang
Kala ia merekah indah kita terlena
Menikmati keindahan dan pesonanya
Lalu tiba-tiba ia layu tanpa kita tahu
Karena itu jangan kau heran
Suatu janji berujung pengkhianatan

Duhai jiwa,
Putaran roda jaman jangan kauratapi
Wajahnya berbeda kala datang dan kala pergi

Sesampai dirumah, langsung kubuka notebook dan kubiarkan jemari ini liar menari diatas keyboard :

Telah tetap pergantian siang dan malam
Perjumpaan mengantar kita pada perpisahan
Kebahagian telah berganti kesedihan

Sungguh, perpisahan denganmu adalah kesedihanku
Masih mungkinkah kebahagian sesaat itu terulang

Kebersamaan denganmu adalah penantianku
Masih adakah sejumput asa tuk bersama

Kategori:Ceritaku, Puisiku
  1. nduk
    24 November 2008 pukul 12:03 pm

    Loh Mr aq kan jg ikut,kok g disebut sih…hikz…malangnya…

    deje : ups… sorry… ^_^

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: