Beranda > Ceritaku > Oleh-oleh dari Zyrex

Oleh-oleh dari Zyrex

Hari Rabu(10/09) kemarin, kujejakkan kaki ini di Ibu Kota yang semakin hari makin padat dan panas. Kalau bukan karena tugas dari sekolah untuk mengikuti “Pelatihan Perakitan Komputer SMK – Zyrex”, mungkin lebih baik berada di Malang yang lebih kondusif untuk beribadah di bulan Ramadhan ini. Tapi bagaimanapun juga harus kunikmati puasa kali ini di Jakarta dengan penuh keikhlasan.

Pelatihan yang dimulai pukul 13.00 (4 jam setelah kedatanganku) di ikuti oleh 200 guru-guru SMK se-Indonesia, yang terbagi menjadi 4 gelombang. Dan kebetulan untuk wilayah Jawa berada pada gelombang kedua. Jadi ada sekitar 50 guru yang ikut dalam pelatihan kemarin.

Setelah dibuka langsung oleh penanggung jawab proyek kerjasama Zyrex dengan Direktur PSMK yaitu Bpk Efendi, acara langsung dimulai dengan teori perakitan komputer oleh Bpk. Gusti. Walaupun sebagian besar peserta sudah paham mengenai apa yang dijelaskan oleh pihak Zyrex, namun ada beberapa informasi mengenai standar perakitan di pabrik khususnya Zyrex. Hal ini dapat menambah wawasan kami untuk dapat disampaikan kepada siswa-siswi.

Hari pertama diakhiri sesaat sebelum adzan dikumandangkan. Kami kembali ke penginapan (Hotel KChrysant) yang selisih satu bangun di sebelah barat kantor Zyrex. Tidak ada kegiatan yang saya lakukan pada malam harinya. Mungkin masih terlalu lelah perjalanan Malang-Jakarta yang kutempuh sejak selasa (9/09) kemarin dan langsung disambut dengan materi pelatihan. Alhasil malam itu tuntas aku nikmati sebagai selimutku, bukan kah dijadikan tidur sebagai waktu untuk istirahat.

Praktek Perakitan di Ruang Produksi Zyrex

Praktek Perakitan di Ruang Produksi Zyrex

Hari kedua para peserta harus ke kantor Zyrex tepat pukul 08.00 WIB dan langsung Cek Out dari penginapan. So pelatihan dihari kedua ini harus tenteng-tenteng travel bag ke lokasi pelatihan. Tanpa banyak acara, setiba dilokasi kami langsung di ajak ke ruang produksi PC dan Notebook Zyrex. Bahkan kami juga diberi kesempatan untuk praktek langsung di ruang produksi dengan dipandu para teknisi-teknisi Zyrex. Ya lagi-lagi ini bukan hal yang asing bagi sebagian besar peserta, karena selama ini kami juga sudah sering melakukan perakitan komputer. Namun tetep aku harus berusa mengambil sisi positif kegiatan kali ini, kalau tidak rugi dong jauh-jauh hanya untuk hal yang sepele.

So agar kegiatan kali ini ada sesuatu yang bisa dibawa pulang, sesaat setelah praktik perakitan PC, saya langsung berusaha menemui Bapak Yanto selaku ZASP Supervisor Zyrex. Saya melakukan beberapa pembicaraan kerjasama masalah pemasaran zyrex di Malang. Paling tidak ini bisa menjadi poin selama pelatihan saya di Jakarta.

Akhirnya acara ditutup tepat pukul 13.00 WIB dan dilanjutkan dengan pembagian sertifikat dan toolkit. Untung berangkat udah bawa travel bag kosong, walhasil pulang travel bag udah penuh dengan toolkit. Kerinduan akan tanah jawa (Malang khususnya) sudah membuncah, akhirnya kuputuskan untuk pulang hari itu juga, walaupun sampai jam 14.00 (setelah seluruh administrasi selesai) aku belum dapat tiket untuk pulang.

Kubulatkan tekad untuk langsung menuju stasiun Gambir dengan asumsi bahwa tiket masih tersedia untuk jadwal keberangkatan hari tersebut (11/09) pukul 17.30. Awalnya sih mau naik busway dari Daan Mogot (kantor Zyrex) menuju ke Gambir, tapi karena shelter busway yang lumayan jauh dan aku harus bawa travel bag yang penuh sesak terisi toolkit, akhirnya kuputuskan naik taxi dan langsung meluncur ke Gambir lewat jalur Grogol.

Ternyata saat itu sedang macet-macet nya Jakarta. Dengan sedikit mengeluh dalam benak ku memaklumi hal tersebut, karena jam segini memang jam orang kembali ke kantor dari istirahat, yang masih terus terbayang dalam pikiran ini, mengapa istirahat aja harus keluar dari kantor sambil bawa mobil sendiri-sendiri, padahal setiap gedung-gedung perkantoran kan sudah menyediakan fasilitas kantin, huh… dasar orang kaya… ups.. aku inget perut ini dalam keadaan kosong, karena saur pagi tadi Hotel hanya menyediakan mie goreng jawa.

Tidak ingin hari ini hanya dapet lapar dan dahaga aja, langsung istighfar dan kutancepkan eraphone di kedua telinga ku dan ku mainkan my-suffle (the name of my ipod) dan hati terasa sejuk ketika lantunan An-Naba’ mengalir melalui saraf-saraf telingaku. Sambil kucoba mengikuti ayat per ayat sambil mencoba mengingat-ingat hafalan ku, kunikmati kemacetan Ibu Kota siang itu, tanpa aku pedulikan lagi tiket yang sedang aku buru di terminal Gambir.

Tepat pukul 15.00, taxi blue bird telah berhenti tepat di depan pintu masuk stasiun gambir. Kuraih travel bag dibagasi belakang, kutarik tuasnya dan mulai kuseret dengan bantuan 2 roda di bagian bawah cukup membuat travel bag penuh itu serasa ringan. Kulewati beberapa calon penumpang yang sedang santai menunggu jadwal sambil duduk-duduk dilantai, para petugas keamanan yang dengan was-was mengawasi sekitar stasiun, dan beberapa orang yang menawarkan jasa “membawa barang”. Kedua bola mata langsung tertuju ke loket penjualan tiket Gajayana, kulihat petugas hanya melayani seorang pembeli saja.

Ada dua kemungkinan mengapa loket itu sepi, yang pertama mungkin memang sudah habis dan kemungkinan berikutnya tiket hari ini masih banyak yang belum terjual. Ah aku tak menghiraukan pengandaian tersebut, langsung kudatangi petugas di loket tersebut dan kutanya dengan ramah “Tiket Gajayana 1 pak..” , ternyata beliau lagi asyik ngobrol kearah temannya, sambil sesekali waktu melihat wajahku, ku ulangi permintaanku “tiket Gajayana 1 pak..”, ternyata masih di cueki untuk kali ketiga kutanyakan lagi dengan nadi agak tinggi “Pak.. tiket Gajayana hari ini 1…” uh.. ternyata masih ada frontliner yang bersikap tidak ramah terhadap pelanggan, mentang-mentang perusahan Kereta Api hanya satu di Indonesia, bersikap seenaknya saja terhadap calon penumpang. Hati ini mulai tak bisa diam akan kenyataan di bumi Indonesia tercinta ini. Coba aja ada satu pesaing perusahaan kereta api yang dikelola swasta, pasti deh mereka akan merengek-rengek cari pelanggan, apakah tidak mau belajar dari operator telekomunikasi yang saat ini sudah mulai menjamur.

Ups… ku inget lagi kondisi ku saat ini adalah sedang berpuasa, yang pada hakekatnya tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tapi juga menahan amarah. Kutarik nafas panjang, lalu kutatap wajah bapak penjual tiket tersebut sambil kutunggu selesai pembicaraannya, sampai akhirnya beliau yang bertanya dan aku jawab “tiket gajayana satu”, Alhamdulillah ternyata masih ada.

Sebelum masuk ke ruang tunggu, ku cari perbekalan untuk buka malam ini di sekitar area Gambir. Sebenarnya di ruang tunggu pun juga banyak penjual minuman dan makanan, hanya saja mungkin harganya sedikit lebih murah diluar walaupun masih lebih mahal dari harga aslinya. Sebelum membeli minuman dan makanan ringan, kumampir dulu ke lapak(toko kecil di area statsiun) penjual buku-buku dan majalah, kuambil majalah PC Media, sebagai teman selama menunggu dan perjalan panjang nanti.

Setelah semua perbekalan cukup untuk berbuka, langsung kulangkahkan kaki ini menuju ruang tunggu yang ada di lantai dua statsiun Gambir. 2 Jam lebih ku menunggu jadwal kereta sambil ngobrol dengan beberapa peserta pelatihan yang kebetulan bertemu juga di ruang tunggu. Pukul 5 sore lebih dikit, ku beranjak dari ruang tunggu menuju ke lantai tiga, untuk menanti gerbong-gerbong bertautan yang akan membawaku kembali ke Malang.

Alhamdulillah sesaat setelah itu kereta datang dan tepat pukul 17.30 berangkat menuju ke Malang. Kunikmati perjalanan pulang ini dengan perasaan yang penuh lega. Kudapatkan banyak oleh-oleh dari perjalanan selama 3 hari ini. Mulai dari oleh-oleh dari peserta dari beberapa kota lain yang share ilmunya, oleh-oleh dari pihak zyrex mengenai proses produksinya, oleh-oleh dari kemacetan Jakarta yang melatih kebaranku, oleh-oleh dari Bapak penjaga loket penjualan tiket mengenai pelayanan yang baik seharusnya seperti apa?, dan oleh-oleh lain dari Universias Kehidupan ini.

Foto bersama di depan Mobil Zyrex

Foto bersama di depan Mobil Zyrex (sayang aku masih ada keperluan diatas, gak ikut poto deh)

nb : si Deje tiba di Malang sekitar pukul 09.00 dan langsung menuju rumah kontrakan yang ngangenin.

Kategori:Ceritaku
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: