Beranda > Ceritaku > Get Married

Get Married

Alhamdulillah… pagi ini masih ada kesempatan untuk subuhan berjamaah, dzikir ma’tsurat, tilawah, ngelanjutin ‘Saksikan bahwa aku seorang muslim‘ nya Akh Fillah, Cuci baju yang seharusnya kemarin pagi dan masih mampu berbagi cerita dan hikmah (insyaallah) melalui tarian jemari diatas tuts keyboard qwerty (susunan keyboard standar di indonesia) my-box. Padahal kemarin tubuh benar-benar sulit diajak berjuang, abis subuh langsung ambruk lagi.. (hiks…) ya mungkin karena kecapekan and cuaca malang lagi gak bersahabat ditambah lagi banyak virus menyebar di sekitar saya. Alhasil hari ini harus absen dulu dari rutinitas pekerjaan.

O ya… ada satu fenomena yang pingin deje bahas pada kesempatan ini. Apaan tuh..!? Get Married pernikahan lebih tepatnya (cie… kayak yg dah pengalaman aja mo nulis tentang pernikahan… hehe…). Gak tau kenapa tiba-tiba pingin nulis hal tersebut, ketika tadi pagi ditengah-tengah dzikir pagi hangponku my-moto berteriak-teriak minta diaccept (bahasanya rumit hehehe…) ternyata sepupu sedaerah yang kebetulan juga lagi kuliah di malang bersilaturahim lewat teknologi yang satu ini. Dari salah satu pembicaraan dia menanyakan acara walimah si Fulan (sepupu yang lain) yang digelar hari sabtu kemarin.

Ya sabtu kemarin aku pulang karena ada acara walimah saudara dikampung halaman, tapi sayang gak bisa datang tepat waktu. Masalahnya klasik kesibukan membuat ku baru bisa pulang jam 14.00, padahal acaranya jam 13.00 hehehe.. (asumsi perjalan santai Malang-Pasirian 2,5 jam) So nyampe rumah jam 16.30

Lo..kok jadi gak fokus… katanya mo bahas pernikahan..!!??? (tenang bro…!)

Si deje pingin mengangkat proses menuju pernikahan si Fulan tersebut, berdasarkan pengamatan si deje sendiri sih (maaf ya mas.. saya tanpa ijin membahas antum, tapi insya allah untuk kebaikan). Walimah kemarin digelar kurang lebih seminggu setelah proses lamaran khitbah. Proses khitbah itu sendiri terjadi juga sekitar seminggu setelah proses pendekatan taaruf. Proses yang begitu cepat… ya begitulah seharusnya… malah ada yang lebih cepat…

Salim A. Fillah menceritakan kembali tentang sebuah acara kontak jodoh yang dipimpin psikolog tenar Steve Fletcher. Fletcher memulai acaranya jam 7 pagi dan ketika seorang pria bernama David Weinlick jam 11 siang berdiri di Mall of America di Minneapolis untuk menikah, Fletcher dan kawan-kawannya memilihkan seorang pendamping dari 26 calon yang telah mendaftar sejak Dave diklankan di televisi. Akhirnya Elizabeth Runze yang terpilih dan dinikahkan dengan Dave tepat pukul 16.00 sore. Wow.. seseorang yang belum pernah bertemu sebelumnya, dengan bantuan seorang psikolog dipertemukan sesaat dan langsung dinikahkan. Sungguh luar biasa… pertanyaannya bagaimana umur pernikahannya….? bagaimana kondisi rumah tangga nya…? ya pertanyaan ini lah yang membuat sang psikolog was-was selalu.

Selama beberapa tahun setelah proses comblang tersebut Fletcher masih terus berkomunikasi dengan kedua mempelai tersebut. Dia selalu bertanya, “Bagaimana?” dengan senyuman mereka menjelaskan bahwa merekan masih mabuk kepayang pada pasangan hidupnya dalam sebuah rumah tangga harmonis.

Apa yang membuat semua itu berhasil..!!?? ternyata kesamaan visi anatara kedua mempelai, hal ini lah yang dipelajari Fletcher untuk kemudian dia sesuaikan visi dari ke-26 calon pasangan dave dengan visi yang dimiliki dave. Ya ternyata mereka berdua sama-sama memiliki visi komitmen untuk membina rumahtangga yang bahagia. Jikalau visi seperti saja bisa sedimikian kuat. Apalagi visi untuk sama-sama memperjuangkan agama Allah?

Masih seputar cerita pernikahan yang lain, sekitar dua minggu yang lalu seorang teman di kampung juga sedang merayakan walimah (kasus nya sama saya juga gak bisa datang…hiks…). Ketika mendengar cerita dari beliaunya (temen tersebut) ada perbedaan yang mencolok. Rencana pernikahan tersebut sudah lama sekali direncanakan, bahakan proses khitbah juga sudah berbulan-bulan yang lalu. Dan yang lebih ‘parah’ lagi proses taaruf semenjak sekolah dulu (ya sekitar 4-5 tahun lah).

Saya bukan mengajak membicarakan orang lain, cuman mengambil contoh dari kenyataan itu lebih fair. Saya tidak mengatakan rumahtangga mereka tidak akan ‘bahagia’. Karena saya juga tidak tahu komitmen mereka. Yang jelas dalam keluarga yang barakah itu salah satunya ada unsur sakinah, mawaddah dan rahmah. Saya ingin mengangkat kata mawaddah tanpa bermaksud mengesampingkan dua kata yang mengapitnya. Masih menurut Salim A. Fillah yang menggabungkan pengertian mawaddah menurut Ibnul Qayyim Al Jauziyah dan Erich Fromm dalam The Art of Loving, menjelaskkan mawaddah merupakan salah satu jenis cinta yang lebih mengarah ke erotis-romantis. Beliau mengatakan bisa berbentuk bathin maupun zhahir, dari yang bersifat emosional hingga seksual.

Nah… kita harus berhati-hati dengan mawaddah ini, karena sakinah mawaddah dan rahmah bagi mereka yang telah mendapatkan pasangan hidupnya ( Ar-Rum 21 ). Saya korelasikan lagi dengan 2 contoh yang telah saya gambarkan diatas, ketika proses begitu cepat dan komitmen yang kuat maka tidak mustahil akan muncul barakah dalam rumah tangga tersebut. Akan tetapi ketika proses begitu lama, maka kesempatan mawaddah sebelum dihalalkan akan lebih besar.

Akh Fillah lebih ‘ekstrim’ menggambarkan mawaddah sebelum pernikahan. Menurut beliau, perhatian, kado, bunga, coklat, kedekatan, khalwat, pandangan, bahkan sms berisi nasehat “Bertaqwalah kepada Allah”, missedcall tahajud, hadiah buku, hadiah kaset yang berjudul Jagalah Hati dan sebagainya merupakan mawaddah tanpa sakinah apalagi rahmah. Kalo yang satu berupa bunga dan coklat. Yang lain berupa buku dan kaset da’wah. Namun sensasi yang dirasakan oleh pemberi dan penerima nya sama : mawaddah. Bahkan kalo tidak percaya silahkan pasang ECG (Electro Cardiograph) di jantungnya dan pasang EEG (Electro Encephalograph) di otaknya. Maka sinyal yang dihasilkan persis.

Hehehe… susah juga ya menjaga hati… makanya seruan Rasul kepada para pemuda untuk segera menikah memang sangat benar kalau melihat bahaya mawaddah seperti diatas. Berhati-hatilah wahai saudaraku semua (termasuk si deje), meski kita telah memulai dengan sebuah komitmen yang kuat (kesejiwaan) jangan coba-coba untuk mencicipi mawaddah sebelum dihalalkan karena hal itulah yang meleburkan komitmen sekuat baja pun dan akan membuat segalanya berantakan.

Ya Allah… ampunilah kebodohan ku selama ini yang tidak dapat memposisikan arti mawaddah yang sesungguhnya,
Ya Rabb.. setelah kau anugerahi pengetahuan tentangnya, kuatkan hati ini untuk selalu terjaga.. dari tipu daya syetan,
Ya Allah… anugerahkan bidadari yang memiliki kesejiwaan untuk menuju keridhaan-Mu
Aamiin…!

Satu cerita lagi yang pingin deje bagi pada kesempatan ini, beberapa bulan yang lalu tepatnya awal bulan pebruari ada sebuah sms dari teman lama yang mengabarkan bahwa ada seseorang yang telah mengkhitbahnya. Saat itu bener-bener bingung mau ngebales sms tersebut, saya sendiri bingung dengan gejolak yang ada di dasar hati ini.

Tapi sebagai seorang pria ikhwan, kita memang berhak untuk jatuh cinta dengan akhwat manapun, berapun jumlahnya (malah kalau bisa sebanyak-banyaknya) namun tetap harus gentle dan sportif!. Jika ada seorang ikhwan yang lebih ‘siap’ datang mendahului menjemput sang angan pingisi sepi jangan menangisi diri! Persilahkan dengan gagah, bahkan bantu dengan segenap pengorbanan jika perlu!

Setelah mengingat prinsip tersebut, perasaan yang awalnya dirundung kebimbangan akibat tipu daya syetan, akhirnya mulai merasa lega dan bahagia. Bagaimana tidak lega ketika mengetahui saudara kita dapat segera menggenapkan separuh agamanya. Bukankah kita satu tubuh, yang ketika salah anggota tubuh mendapatkan kebahagian, tubuh yang lain juga dapat merasakan bahagia tersebut.

Namun sampai saat ini masih ada sedih di hati ketika berita bahagia itu belum sampai juga. Yups… undangan walimah yang pada hakekatnya puncak kebahagian belum ada kabarnya. Bahkan kalau tidak salah informasi (semoga salah) proses khitbah masih sebatas kepada si akhwat, bukan pada hakekat khitbah yang sesungguhnya. Bersegeralah saudaraku…!

Perlu saya ingatkan ketika syetan membingkai sebuah mawaddah yang begitu indah dan tidak terasa. Selama prosesi akad nikah belum digelar maka selama itu pula haram hukumnya mawaddah. Gambaran Salim A. Fillah diatas salah satunya bisa berupa sms untuk saling mengingatkan, “nanti malam bangunkan buat makan sahur ya…” atau juga yang lainnya.

Entah apalah namanya; Pacaran kah, TTM (teman tapi mesra) kah, ATM (adek tapi mesra) kah, KTM (kakak tapi mesra)kah, HTS (hubungan tanpa status) kah, atau bahkan ketika kita tidak mau disebut dengan label-label tersebut, namun perilaku kita tetep pada konteks mawaddah tanpa sakinah dan rahmah, kita harus tetap hati-hati. Ya selama bisa dihindari, dihindari lah… tapi juga harus diperjuangkan…
Wallaahu A’lam….

Sebenarnya masih ada satu cerita lagi yang menggambarkan ketulusan hati ketika berharap seorang pendamping jiwa yang mampu meneruskan perjuangan menegakkan agama Allah dan hal itu mulai terealisasi, tanpa harus tahu satu sama lain tapi Allah menunjukkannya. Tapi cerita nya deje simpan dulu aja, pada kesempatan mendatang pasti deje share….

duh…. gak terasa waktu dah menunjukkan pukul 9.30 padahal tadi ijin gak masuk buat istirahat, tapi kok malah ngo-blog… hehehe… ini kan juga sebuah peristirahatan dari aktivitas yang melelahkan…. caio…..

nb : maaf bagi siapa saja yang kisahnya tertuang ditulisan tak layak ini. semua cerita belum tentu kebenarannya karena dianalisa dari sisi si deje saja, namun jika ada nilai tarbiyah dan kebenaran didalamnya semua semata-mata dari Dzat yang Maha Benar. jika ada yang tidak berkenan / tersinggung dengan tulisan ini silahkan konfirmasi via japri.

Kategori:Ceritaku
  1. 25 April 2008 pukul 3:02 am

    opo opoan iki….
    ketoke efek kakean turu jam 9
    coba sekali2 turu jam 1

    CMIIW

  2. 26 April 2008 pukul 1:08 am

    waktu tidur yang paling tidak disukai rasul, setelah shalat subuh, setelah shalat ashar atau setelah shalat maghrib. Dan rasul sering tidur setelah sholat isya, beliau sangat jarang sekali begadang…… makane lek kancane turu lbh awal ojo di gudo ae…. kudune aku malah berkewajiban bangunin pagi hari… tp smntra saya biarkan (gak tego…)

  3. 27 April 2008 pukul 1:42 pm

    So Impressive (Betul gak kata2ku :D)

    Sam, kapan nikah e???

    Aku turut berduka cita atas salah satu cuplikan cerita di atas tadi.
    Kalah cepet sampean….!!! 😀

    thanks… 4 ur empati…, tapi aku nulis ini bukan cari empati, cuman berbagi kisah untuk di ambil ibroh nya aja… jadi gak perlu berduka citalah… nikah ?? yang jelas pasti tapi belum saat ini…

  4. bornland
    28 April 2008 pukul 1:02 am

    waduh gmn om ya?
    emg bener koq tdr plg enak tuh abiz subuh ama ashar,sumpe (secara mempraktekkan sehari-hari),bener2 setannya banyak banget kayake,godaannya terlalu kuat.Sepertinya harus segera pindah kontrakan,hahahahahahahhahaa…………
    btw ada tips ga,agar menjaga diri agar tidak tidur di waktu yang dilarang Rasul??
    trz klo tidurnya sekitar jam 6 atau jam 7 itu masih dilarang g yoh???🙂

    gak dilarang, cuman paling tidak disukai…., to engko lak wes oleh omah anyar bagi tugas pagi ae…, ono seng resik2 omah, ono seng masak…, dsb…. pokok e gak onok seng turu… oyi….!

  5. 28 April 2008 pukul 2:31 am

    lho2 aq nek ketemu kasur langsung kesirep hare…
    piye2 ki ?

    need help !!!!!

    untuk sementara ojo ketemu kasur dulu🙂 hehehe… bukti ne lek bengi yo begadang gak turu ngunu lo… butuh pemaksaan untuk dibiasakan agar menghasilkan pola hidup…

  6. 29 April 2008 pukul 1:47 am

    makin sip ajah😉, moga selalu istiqomah….

    insya Allah…

  7. nick
    29 April 2008 pukul 3:20 am

    salam kenal kak, wuih jd pengen get married jg ya..btw, nick salut, klo baca tulisan ini terutama ttg mawaddah, artinya kakak g perna tersentuh mawaddah sbelum waktunya ya, subhanallah…smoga kakak segera taaruf,spertinya da ngebet banget,he2x
    salam sweetsmile


    Maaf sebelumnya…, nih yang paling saya kawatirkan ketika berusaha menulis sesuatu yang ada nilai ilmunya…, aku kawatir dianggap yang paling… apa yang aku tulis bukan berarti aku diluar konteks tulisan ku… (bingung ya…!?) Yang jelas media ini, sejak awal aku tulis sebagai pengingat bagi diriku sendiri… ketika aku sudah menulis tentang mawaddah (for sample) bukan berarti aku belum pernah… tuh kan ada munajatQ yang menggambarkan penyesalanQ.. artinya q juga manusia biasa… tapi paling tidak setelah menulis disini.. ada semacam pengontrol… – masa aku abis nulis dan dibaca banyak orang aku harus melanggar – semacam itulah kontrolnya…

  8. 2 Mei 2008 pukul 2:30 am

    Wah… dua jempol deh!
    Kayake bakate ayah nurun ke kamu ya dik!
    Gmn ntar kita bikin antologii ja…
    (hehehe…)
    Btw crita selanjutnya jadi penasaran!
    Kapan nie!


    wah.., kayak e tulisan ku gak pantes kalo harus dibikinin antologi… mending aku bikin penerbitan ae, sampeyan yang nulis… hehehe… o ya untuk cerita berikutnya… berdoa aja..😉

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: