Beranda > Artikel > Sudah benarkah cinta anda ?

Sudah benarkah cinta anda ?

Hakekat sebuah cinta adalah kesetian. Banyak diantara kita yang ‘mempermainkan’ kata cinta tanpa mengerti arti kesetiaan. Begitu mudahnya kata cinta terucap, padahal cinta itu masih menyertakan variabel harap. Berharap yang tebaik, berharap balasan, berharap kebahagian, berharap yang sempurna dan harapan-harapan yang kadang menggilas rasa ‘setia’.

Ada sebuah kisah tentang seorang tentara muda yang mendapat tugas negara untuk terjun di medan perang. Setelah berjibaku dengan rentetan senjata dan dentuman mortir, suatu ketika dia minta ijin kepada komandannya untuk pulang mejenguk kedua orang tuanya. Setelah mendapat ijin istimewa dari sang pimpinan, pemuda tersebut mengabarkan kepada kedua orang tuanya, bahwa dalam waktu dekat dia akan pulang.

“Wahai ayah, minggu depan ananda pulang tapi ijinkanlah ananda mengajak seorang teman untuk tinggal bersama kita”, ujar pemuda tersebut. Sang ayah yang lama tidak mendengar suara anak kebanggaannya penuh semangat menjawab pertanyaan tersebut, “Kami sangat merindukanmu, silahkan kamu mengajak temanmu kita pasti bahagia dengan kedatangan kalian.” jawab sang ayah dari ujung telepon bututnya. “Tapi teman ini kehilangan satu kaki dan satu tangannya ketika berperang melawan musuh.”, sang anak menegaskan. “Silahkan kamu ajak dia, kalo hanya untuk tinggal sesaat bersama kita”, jawaban sang ayah yang mulai ragu. “Tidak wahai ayah, dia akan tinggal bersama kita selamanya.”, pemuda itu semakin membutuhkan kepastian. “Tidak mungkin kita hidup bersama orang yang untuk mengurus dirinya sendiri saja tidak bisa, dia akan merepotkan kita, dia akan menjadi beban bagi ayah dan ibumu, apa kata tetangga tentang hal tersebut.”, sang ayah menegaskan ketidak setujuannya. Dan akhirnya sang pemuda mengakhiri pembicaraan tersebut.

Beberapa hari setelah kejadian itu, orang tua dari pemuda tersebut mendapat kabar bahwa ada seorang pemuda yang meninggal karena terjun dari gedung bertingkat dan di-identifikasi adalah anak mereka. Dengan penuh rasa cemas dan sedih, kedua orang tua tersebut melihat ke kamar jenazah sebuah rumah sakit yang mengurus jenazah korban. Setelah dipastikan dari ciri-ciri fisikdan tanda pengenal yang dibawa, mereka yakin bahwa mayat itu adalah anak satu-satunya yang sangat dibanggakan. Kesedihan menyelimuti mereka, namun ada satu pemandangan yang membuat mereka semakin terpukul. Yaitu ketika didapati si anak yang sekarang sudah tak bernyawa ternyata tidak memiliki satu kaki dan satu tangan. (diceritakan kembali dari majalah hidayah edisi april dengan sedikit melebih-lebihkan tanpa bermaksud mengurangi makna)

Seperti itulah cinta akan dibuktikan, sang anak hanya ingin menguji cinta kedua orang tuanya apakah mereka benar-benar tulus mencintai dengan tanpa embel-embel ‘harap’. Dalam kisah tersebut kesetian sang orang tua benar-benar di uji. Tidak sedikit orang tua yang menitipkan anaknya ke panti rehabilitasi karena kecanduan narkoba, bahkan tidak sedikit dari mereka yang tidak menanyakan lagi keadaannya. Padahal sejak kecil sang anak yang dilahirkan dari rahimnya ini benar-benar dibangga-banggakan, mereka rawat dengan penuh ‘cinta’ dan kasih sayang, tetapi mengapa ketika sang anak tidak sesuai harapnnya cinta itu menjadi luntur.

Ya… walaupun masih ada orang tua yang dengan sabar untuk membawa kembali sang anak dari jurang ketergantungan obat, walaupun sang anak sudah mempermalukan mereka, bahkan sang anak sudah menjual dan menggadaikan seluruh barang-barang berharga bahkan bersejarah milik orang tuanya. Sang orang tua masih menunjukkan rasa cinta dan kesetiannya untuk tetap merawat anaknya, dan pada akhirnya sang anak kembali seperti sedia kala, dan dia benar-benar bangga akan arti cinta yang diberikan kedua orang tuanya. (kisah salah satu atlet senior yang pernah diangkat di Kick Andy)

Cerita lain yang sejenis adalah, perjuangan seorang pemuda untuk menyelamatkan mantan kekasihnya yang lagi-lagi kecanduan narkoba. Dia dengan sabar dan penuh perhatian mencurahkan seluruh hidupnya demi kesembuhan sang mantan. Padahal sang pemuda dalam waktu dekat akan melangsungkan pernikahan dengan orang lain. Namun hal ini tidak menjadi penghalang bagi rasa ‘cinta’nya untuk menyelamatkan orang lain. Bagi pemuda ini cinta tidak harus ditunjukkan dengan kepemilikan, walaupun saat ini dia tidak mungkin lagi bersama sang mantan, tapi dia masih dengan ‘setia’ mensupport, mendoakan bahkan secara langsung dengan sabar ‘merehabilitasi’nya.

Walaupun di akhir cerita dari film ‘Kangen’ ini sang calon istri meninggal dan akhirnya si pemuda hidup bahagia dengan mantan kekasih yang telah sembuh dari ketergantungan, namun yang terpenting adalah wujud cinta itu sendiri. Saya hanya mencoba mengambil ibroh dari film tersebut, mungkin untuk kebutuhan komersial film dibuat happy ending seperti itu. Padahal yang terpenting bukan dari akhir kisah tersebut, akan tetapi proses kesetian dan rasa cinta itulah yang perlu diangkat. Apapun akhirnya yang terpenting adalah prosesnya.

Begitu halnya cinta kita terhadap ilahi, kadang diantara kita akan muncul rasa cinta ketika semuanya berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan. Tidak sedikit diantara kita yang secara cepat ‘menghakimi’ ketentuan Allah ketika hal itu tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Padahal Allah lebih tahu, apa yang terbaik buat hamba-Nya. Masih ingatkah ketika El Shirazy menggambarkan sosok fahri yang frustasi dan ‘lupa’ kepada Sang Penolong ketika dia mendapatkan tuduhan memperkosa noura dalam novel Ayat-ayat Cinta. Sesosok fahri yang digambarkan begitu perfect, ternyata tidak sabar ketika mendapatkan cobaan yang begitu dahsyat, tapi Allah yang sangat Mencintai hambaNya mengingatkan si fahri melalui rekan-rekan di hotel prodeo.

Namun kita tidak bisa meninggal kan variabel harap ketika mencurahkan cinta kepada Sang Illahi. Bahkan untuk cinta yang satu ini ada satu variabel lagi sebagai penghambaan kita yaitu takut.Tentang hal ini, Ibnu Taimiyah mengatakan :

Barangsiapa menyembah Allah dengan cinta saja maka sungguh ia Zindiq
Barangsiapa menyembah Allah dengan harap saja maka ia adalah Murji’
Barangsiapa menyembah Allah dengan takut saja maka ia Haruri
Mukmin bertauhid menyembah Allah dengan ketiganya; takut, harap dan cinta

Seperti itulah wujud ketauhidan kita kepada Allah, silahkan merujuk tulisan Salim A. Fillah yang berjudul “Tiga Pilar” dalam bukunya “Saksikan bahwa aku seorang muslim.”

Dari beberapa fragmen cerita yang telah deje tuangkan diatas semoga dapat kita ambil hikmah dan inti sarinya, wujudkanlah cinta penuh kesetian, cinta penuh keikhlasan. Tetap tulus ikhlas ketika kondisi seseorang yang kita cintai sudah tidak menyenangkan, tetap setia ketika apa yang awalnya kita cinta kini sudah berubah, tetap cinta ketika ternyata ada orang lain kita rasa lebih baik darinya.

nb : Masih ada gak ya yang masih tulus setia mencintai si deje !!?? hehehe…..🙂

Kategori:Artikel
  1. 23 April 2008 pukul 6:54 am

    bermain cinta ???? eyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

  2. 23 April 2008 pukul 6:55 am

    @masboim
    po po an…..!!!

  3. 23 April 2008 pukul 3:47 pm

    Nice and sweet….

  4. 27 April 2008 pukul 1:29 pm

    Wew, so sweet….!!!!
    Sam, kapan nikah e…!!!!😀
    :peace:


    insya allah… segera… !!!

  5. 2 Mei 2008 pukul 2:37 am

    Cinta sejati adalah cinta illahi..
    Kebahagian sejati adalah mencintai Illahi…
    Sungguh hina diri ini…
    Jika selama ini cinta kita salah menepi…
    Labuhan hati yang sesungguhnya adalah Illai Robbi…
    Dengan pemenuhan cinta padaNya, hati kita lebih berisi…
    Berisi dengan nama2Nya yang suci..
    Dengan ayat2nya nan menyayat hati…

    Mari kita Cintai diri ini…
    dengan memenuhi hati dengan cinta pada Illahi Robbi

    subhanallah

  6. yossy
    24 Juli 2008 pukul 8:59 am

    cinta….apabila kita bisa menerima semua kekurangan yg ada pada diri orang yg kita cintai.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: