Beranda > Artikel > Perspektif Hidup

Perspektif Hidup

Ketika kubaca sebuah SMS yang masuk di inbox my-moto (sebutan hp ku), kembali hati ini bergejolak, pertentangan hati, perang batin, rasa takut akan takabur, kawatir akan perasaan ujub semua menyelimuti segumpal daging yang ada di dalam dada. Intinya seseorang di seberang sana mengabarkan bahwa aku sedang disanjung-sanjung di depan banyak orang. Yups… hal ini lah yang sangat menakutkan.

Ini bukan yang pertama aku rasakan, beberapa saat yang lalu ada sebuah E-mail masuk yang intinya sama. Seseorang menjadikan aku sebagai panutan, dia melihat ada kelebihan didalam diriku. Sebelumnya seorang teman juga menyampaikan secara langsung kesalutannya kepadaku. Beliau menganggap apa yang aku perbuat selama ini adalah luar biasa, sikap yang aku tunjukkan selama ini merupakan sikap “yang tidak mudah” untuk ditiru, lagi-lagi semua ini berlebihan.

Di kesempatan lain seorang rekan melalui private chating menyatakan hal yang senada, beliau kagum melihat aktivitasku. Belum lagi seorang teman curhat yang mempercayakan kisahnya kepadaku, karena dia sangat yakin kepadaku. Ada sesuatu yang beda, ada sesuatu yang dia nilai positif.

CUKUP…..!!!!

Ya Allah… Aku berlindung kepada-Mu dari kesombonganku, dari ke-ujubanku. Ya Rabb jauhkan aku dari segala macam penyakit hati… jangan biarkan hamba terlena oleh sannjungan… Ya Allah kalau bukan karena kasih sayang-Mu untuk menutup segala aibku, niscaya hamba termasuk orang yang hina.

Bukankah hidup itu sebuah perspektif. Kita menilai seseorang kadang masih melihat dari satu sudut perspektif saja. Padahal masih ada banyak sudut-sudut yang lain. Masih ingatkah ketika guru kita mengajarkan menggambar perspektif. Ya seperti itulah hidup ini. Hal ini merupakan salah satu cara bagi saya untuk melindung hati ini, saya menggap seseorang masih melihat dari sudut tertentu.

Jadi ingat kata-kata yang ada di shoutout FS temen yang ada diseberang sana (aku pinjem kata-katanya ya…!!) “teman sejati adalah yang selalu memberikan kebenaran, bukan yang selalu membenarkan kita.” Aku rindu teman sejati, yang tanpa sungkan mangatakan kekuranganku, tanpa takut mengatakan kejelekanku, menunjukkan yang benar itu benar, meluruskan yang salah agar kembali benar.

Ingatlah kawan, janganlah menyanjung didepan saudaramu sendiri, karena itu sama saja engkau menggorok leher saudaramu itu. Semoga kita bisa saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran.

Kategori:Artikel
  1. 2 Mei 2008 pukul 2:48 am

    ya bener, hati-hatilah dengan yang namanya penyakit hati…
    “Ya Allah wahai Engkau yang membolak-balokkan hati, teguhkan hati dan keimananku pada agamaMu….”
    Ada sebuah petuah kecil : bahwa siapa yang mencintai seseorang karena kekurangannya maka dia akan merasa lebih lama untuk bersabahat dengan orang itu, karena disana ada pengertian, pembelajaran, dan ilmu yang saling mereka butuhkan…🙂

    Aamiin… setuju banget ama petuah nya…, tapi berat ya…!?

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: