Ribuan manusia memadati hall C Pekan Raya Jakarta. Panggung yang megah tampak indah dengan sorotan lampu beraneka warna dan pola. Musik kemenangan mulai terdengar membahana. Sang master of ceremonies pun dengan lantang membacakan hasil kompetisi yang telah digelar selama 3 hari sebelumnya. Riuh applause pun menjelma jadi melodi yang membuat bulu roma semakin merinding mendengarnya.
I like this moment
Ya itulah gambaran suasana detik-detik pembacaan pemenang Lomba Kompetensi Siswa ke-17 di Jakarta. Guratan ketegangan tampak pada wajah para peserta, pembimbing bahkan pejabat-pejabat dari provinsi masing-masing. Termasuk diriku yang saat itu lebih memilih menyibukkan diri dengan memainkan Nikon D50 sambil sesekali jepret sana dan jepret sini -lebih tepatnya menghilangkan ketegangan-.
Saat semua hasil telah dibacakan tampak wajah-wajah penuh kegembiraan di sana sini. Namun banyak pula raut muka kekecewaan yang tampak sulit disembunyikan dari mereka yang namanya tak disebut oleh sang MC. Dalam batinku pun sempat berkata ‘harusnya bisa lebih baik’ , saat MC membacakkan peraih medali perunggu bidang lomba Web Design dari Jawa Timur. Sebelum perasaan itu menjalar, cepat-cepat kuganti dengan ucapan Alhamdulillah.
Tampak pula wajah penyesalan pada pada kedua siswaku. Walaupun mereka mendapat ucapan selamat dari Dirjen Dikdasmen dan Direktur Pembinaan SMK saat mengalungkan medali, raut muka mereka tidak dapat menutupi kekecewaan itu. Yah itulah kompetisi -dalam batinku- . Saat mereka turun gontai dari atas panggung kusambut mereka, kujabat erat tangannya, kuranggkul tubuhnya dan kupastikan padanya bahwa ‘kau sudah memberikan yang terbaik bagi provinsimu, terima kasih’. Kata ‘maaf’ tetap saja meluncur dengan tulus dari bibir mereka.
Inilah kompetisi! Kembali kulempar pandangan bebas. Kulihat seorang pembimbing yang tampak memandang kosong, kuhampiri dia, kucoba menguatkannya. Di sisi lain, tampak seorang peserta menerawang entah kemana, menunjukkan gurat ketidakpercayaan terhadap apa yang telah dibacakan MC. namun di sisi lain kulihat mereka yang salaing berpelukan, tertawa lepas, wajah yang penuh kegembiraan. Sekali lagi inilah kompetisi!
Hidup juga merupakan kompetisi. Siapa yang tak siap dia pasti tersingkirkan. ‘Tapi aku sudah siap, aku sudah berikan yang terbaik, aku sudah maksimal. harusnya aku dapat jauh lebih baik dari ini’ saat protes itu terlontar dari bibir lugu mereka. Aku hanya bisa terdiam.
Sesungguhnya hasil yang telah dibacakan MC tadi adalah juara ‘menurut pandangan manusia’. Ada banyak faktor yang menentukan juara ‘menurut manusia’ tersebut. Segala upaya pun bisa diperoleh. Dan itu tidak lebih dari label dan penghargaan dari manusia saja.
Juara yang sebenarnya adalah juara menurut Allah SWT. Dimana saat kita berusaha sekuat tenaga, berdo’a setulus hati dan tetap tawakal menerima apapun keputusanNya itulah juara. Memang manusia tidak menghargai kita, tidak mengelu-elukan kita dan tidak menyanjung kita. Tapi ketahuilah bahwa ada Dzat yang telah mencatat kegigihan kita, keuletan kita, kesungguhan kita dan tentunya kepasrahan kita akan keputusanNya.
Ya.. itulah kompetisi! hidup pun sebuah kompetisi.. Ada tiga pilihan yang ditawarkan, Mengejar kemenangan dunia! atau Mengejar kemenangan akhirat! atau Mengejar kemenangan dunia sambil berjuang meraih kemenangan akhirat!
Maka tersenyumlah… usah kau bersedih dalam larut… usah kau kecewa… jalan masih panjang… tersenyumlah
& Komentar
Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal
Tinggalkan komentar















*terharu dengan kebanggaan….
ku juga pernah mengalami konidisi seperti itu tp dulu
smua akan terasa nikmat jika kita bisa mensyukuri sekecil apapun nikmat yg allah berikan pada kita..smua itu bukan kegagalan tapi kemenangan yg tertunda adek2…
ttp semangad ya
we’e'e
selamat buat kemenangannya
ya meskipun gak dapet juara 1
tetep semangat!!
Ingatlah suatu hari saat Rasulullah membawa sepuluh ribu orang memasuki Mekkah, kota yang dicintainya, kota yang penduduknya mengusir & menyakitinya. Punggungnya terbungkuk, janggutnya menyentuh punuk untanya. Ia tak mabuk kemenangan, ia beristighfar. Lalu, tampaklah wajah-wajah itu, wajah-wajah yang pernah menimpukkan batu, kotoran dan isi perut unta kepadanya. Wajah-wajah bengis, yang mengatainya gila, penyair pendusta & penyihir lihai. Saat wajah-wajah itu tertunduk lesu, terbungkam kalah di hadapannya, di depan ka’bah, apa yang akan dilakukannya?. “Pergilah…!”, katanya dengan nada yang sangat empatik, “Kalian semua bebas!”. Subhanallah.
itulah kemenangan sejati di dunia.
masih ada hari esok ..